Yolody's Room

Tuesday, November 3, 2009

Alberthiene Endah, penulis yang tak kenal gundah

Selasa, 3 November 2009.
17.30-20.30 pm

Cahaya temaram mengiringi langkah kami di atas lantai kayu dalam sebuah restoran bernuansa etnik romantis. Setiap pijakan kakiku menyisakan debar jantung yang tidak beraturan dalam dada. Seorang di dalam sana adalah sosok yang kutunggu, kuimpikan untuk bertemu dalam beberapa tahun terakhir ini. Bukan mantan pacarku, bukan pula calon tunanganku. Kalau kamu menebak ia lelaki, salah. Ia seorang wanita yang selama ini menjadi ispirasiku dalam berkarya. Sang penulis yang tidak merasa dirinya istimewa, dan tidak pernah ada waktu untuk berpikir apa hebatnya berjumpa dengannya.Tapi, saya sangat merasa istimewa untuk berjumpa dengannya. Alberthiene Endah.

Seorang penulis yang novel-novelnya bertengger di rak buku saya di rumah, duduk persis di depanku. Nyata. Saya yakin ini bukan mimpi. Dalam waktu kurang lebih dua jam, kami berempat mengobrol santai. Segelas ice lemon tea, jus pepaya, dan lilin di atas meja menjadi saksi bisu keberanian dan perjuangan seorang AE bisa menjadi sekarang. Dengan santai ia mengatakan awalnya ia yang bukan siapa-siapa, hanya dengan berani memutuskan untuk mencintai dunia menulis, mencoba konsisten dan fokus, ia menemukan birahi sebenarnya dalam hidup.

Perjuangan AE berawal dari menjadi seorang jurnalis di majalah gereja “HIDUP”, lalu menyeberang ke Femina dan menetap di sana selama sepuluh tahun, sampai ia melompat menjadi penulis biografi, novel dan terjun menjadi penulis skenario. Baginya, untuk menjadi penulis yang melakoni keempat macam bidang tersebut, memiliki keistimewaan sendiri.

Jurnalis, membuatnya bisa bertemu orang-orang baru, dan membuatnya kaya pergaulan. Hal semacam itu lebih mahal dari sekian seri mata uang di negara manapun, karena tidak semua orang bisa mendapat rejeki yang ia miliki. Berbeda dengan biografi, di mana ia harus menggunakan haitnya untuk memasuki perasaan tokoh yang sedang ditulisnya. Ketika si tokoh memiliki masalah, AE pun harus berani untuk benar-benar merasakan, agar setiap huruf yang ia rangkai terdapat ruh di dalamnya. Sampai sekarang, ia sangat berhasrat untuk bisa menulis biografi Anggun, sang diva Indonesia di Prancis. Baginya, Anggun adalah seorang wanita Indoensia yang hebat dan berani, berani untuk tidak mengacuhkan hinaan-hinaan masyarakat Indonesia ketika dulu, dan berani meraih mimpinya. Sekarang, seluruh dunia bisa menilai sendiri keindahan suara yang dimiliki Anggun seperti apa.

Beralih dari biografi menuju dunia novel dan script, tidak perlu diragukan lagi. AE bisa menuangkan semua ide-ide liar dan menyampaikan idealismenya secara bebas terbentang melalui ketikannya di atas keyboard. Tentunya sebelum menjadi rangkaian cerita pada novel dan script, yang pada akhirnya dinikmati orang banyak.

Hal lain yang AE sampaikan di sela cerita dan tawanya yang renyah, bahwa seorang penulis itu harus bemodal dua hal; imajinatif dan disiplin. Selain itu, penulis harus bisa peka dan adaptif terhadap apapun, agar bisa melahirkan tulisan yang bagus. Tidak hanya sekedar tulisan yang tidak berkarakter. Ketika salah satu teman saya bertanya padanya untuk mengungkapkan tulisannya dalam tiga kata, ia menjawab, “Real. Easy to read. (Gawat, yang ketiga saya lupa!).” Menurutnya, tulisan yang bagus bukanlah yang membuat orang berpikir lama unutk mencerna kata-katanya, melainkan membuat orang mudah mengerti dan memahami maknanya.

Hari ini benar-benar manjadi hari istimewa bagi saya, dan melalui tulisan ini saya hendak berbagi dengan orang-orang yang belum kesampaian bertemu dengan AE. Walaupun hanya membaca dari ketikan jari-jari saya yang tidak lentik ini, semoga dapat merasakan ruh tulisan saya, dan terinspirasi seperti yang saya rasakan.

Sebelum benar-benar menyudahi, saya mau menuliskan quote dari mbak Alberthiene Endah:
“Setiap orang harus memiliki keberanian untuk melangkah maju, jangan terlalu lama berpikir dan diam di tempat, dan ketika keinginan sudah tercapai rasanya akan senang sekali.”

No comments: