Yolody's Room

Showing posts with label Articles. Show all posts
Showing posts with label Articles. Show all posts

Wednesday, February 8, 2012

All Hail Foodism!


All Hail Foodism!

From conventional kitchens to food laboratory: how we celebrate the art
and craft of great cooking.
 

Jutaan tahun lalu manusia purba memakan tumbuh-tumbuhan yang mereka makan tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Sedangkan untuk hasil buruan seperti ikan dan daging mereka terbiasa mengolah dengan cara sederhana seperti menyimpan makanan mentah dalam lubang lalu dibakar.


Teknik pengolahan makanan terus berkembang dengan kemunculan berbagai teknologi dan inovasi yang ditemukan dari seluruh penjuru dunia. Kini, banyak sekali teknik pengolahan masakan yang menghasilkan tampilan yang berbeda. Yang perlu diketahui juga adalah istilah-istilah seputar tata boga dan tips soal memasak yang bisa diterapkan sehari-hari. Vindex Tengker, seorang chef hotel berbintang, dan Arie Parikesit, moderator komunitas kuliner Jalansutra akan membaginya untuk Anda.


Food Technology

Terbayangkah memasak dengan menggabungkan ilmu kimia dan fisika, bak kegiatan meracik ramuan di sebuah laboratorium? Teknik itu disebut Molecular Gastronomy. Dapur seakan-akan menjadi sebuah laboratorium, karena dalam proses memasaknya, butuh kemampuan menakar bahan-bahan yang presisi. Semisal adalah pembuatan buah zaitun diolah dan dijadikan liquid. Ada lagi carrot caviar, penyajian wortel berwujud seperti bubble. Tokoh chef dunia yang ahli dalam menggunakan teknik ini adalah Ferran Adria dari restoran El Bulli di Spanyol.


Lainnya adalah teknik Desconstructed, cara kreatif untuk mengubah menu makanan tapi dengan tetap memakai bahan-bahan yang sama. Contohnya seperti bahan-bahan untuk membuat minuman blood mary, tapi disajikan dalam bentuk salad. Tentunya dibutuhkan kemampuan tersendiri bagi chef bila ingin menggunakan kedua teknik tersebut.


Dua cara lainnya yang lebih sederhana namun mampu menciptakan rasa dan tekstur yang berbeda menurut Arie adalah crusted dan sheer. Crusted biasanya dilakukan ketika mengolah daging atau ikan. Pertama-tama wijen, ketumbar atau lada sechuan pada seluruh permukan daging, kemudian dipanggang. Tujuannya agar daging menjadi berkerak dan teksturnya berbeda. Sedangkan teknik sheer serupa, hanya saja awalnya daging atau tuna digoreng dahulu tanpa minyak sebelum dipanggang. Hasilnya, daging tersebut akan crispy di bagian luar dan juicy di dalam. Contoh menu makanan yang dihasilkan dari teknik sheer ini adalah Sheer Tunaloin.


Travel Around the world

Teknologi industri kuliner termasuk cepat perkembangannya, namun tak sepesat teknologi industri lainnya. Teknologi kuliner yang berkembang 20 tahun lalu masih terhitung cepat. Lantas, secepat apakah Indonesia akan menyerap teknologi tersebut? Menurut Arie, Indonesia akan lama mengadopsinya, karena masyarakat masih menganggap makanan adalah suatu kebutuhan untuk mengenyangkan perut, bukan tampilannya. Padahal, orang-orang barat dari Eropa dan Amerika, di mana teknik kuliner berkembang, sangat mementingkan estetika makanan dan tak bermasalah dengan porsi yang kecil.


Sedangkan menurut Vindex, masyarakat Asia termasuk Indonesia masih suka menggunakan alat memasak tradisional seperti cobek dan tungku. Oleh karena cara memasak mereka yang lebih bermain dengan bumbu dan rempah-rempah. Selain itu orang Asia terikat dengan sejarah masa lampau, dan itulah mengapa mereka menjaga citarasa makanan tradisional, termasuk cara pengolahannya.


Vindex mencontohkan semisal orang Korea yang suka menyimpan makanan karena pada masa itu kehidupan serba sulit. Akhirnya, mereka menjadikan makanan itu sebagai masakan tradisional. Berbeda dengan Jepang yang kaya dengan aneka makanan ikan segarnya. Menurut Vindex, hal ini karena Jepang memiliki kekayaan laut yang luar biasa sehingga bisa diolah dengan berbagai cara yang menarik.“Biarpun begitu, bangsa Eropa dan Amerika banyak yang menggunakan rempah-rempah dari Asia karena dianggap eksotik, seperti lemon grass, jahe, dan laos,” tambahnya.


The Philosophy of Food

Banyak makanan menyimpan sejarah dan filosofi menarik di balik tampilannya. Seperti nasi tumpeng dengan bentuk seperti gunung dan lauknya berlimpah di bawahnya. Itu adalah lambing kesejahteraan yang melimpah ruah. Lain lagi dengan masakan Bali yang mencampurkan hampir seluruh rempahnya. Semua komponen ada dalam masakan mereka karena mereka percaya mereka harus menyerahkan kekayaan yang ada di tanah mereka kepada Tuhan. Makanan Bali juga kaya dengan unsur warna untuk melambangkan keberadaan api, air, udara dan tanah.


Selain itu, menurut Arie Parikesit, contoh lain makanan yang menyimpan cerita di balik tampilannya adalah hotdog. Awalnya Imigran Jerman membawa sosis ke Amerika dan menjualnya di pinggir jalan, sehingga orang-orang bisa makan sambil berjalan. Namun karena panas ketika dipegang dengan tangan, sosis tersebut dijepit dengan roti. Bahkan, hotdog yang kita kenal sekarang sudah dilengkapi sayuran di dalam rotinya.


Tips dari Vindex Tengker:

  1. Selalu jaga rasa bahan utama masakan. Rasa dari bahan utama harus ditonjolkan, bumbu lain berperan untuk mekengkapi rasa tersebut, bukan menghilangkan.
  2. Cara memotong daging dan tuna harus melawan arah alur daging supaya tekstur daging lembut dan tidak keras saat dimakan.
  3. Kurangi pemakaian zat pewarna. Gunakan bahan-bahan yang berkualitas dan natural.
  4. Simpanlah makanan mentah maupun matang di bawah suhu 5°C. Apabila makanan masih panas, dinginkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan dulu ke dalam kulkas


Tips dari Arie Parikesit:

1. Jangan simpan telur di dalam kulkas karena kulitnya bisa menyerap bau-bau dari makanan lain. Paling baik, cuci dahulu telurnya lalu simpan di dalam karton atau kardus.

2. Jangan gunakan sambal botol berlebihan ketika memasak atau makan karena akan merusak rasa. Kenali setiap rasa dari bahan masakan kita, seperti bawang, olive oil, dan lainnya.

2. Hindari cross-contamination. Selain memisahkan daging mentah dari makanan lain di dalam kulkas, bedakan juga talenan untuk memotong daging, buah dan sayuran.



Cooking Dictionary

Berikut adalah beberapa istilah tata boga yang layak diketahui oleh pembuat maupun menikmat masakan.

1. Misen place : dapur yang menjadi tempat chef menyiapkan bahan dan ‘meracik’ resep.

2. Rotiserrie : teknik membakar daging ayam, atau babi yang masih utuh ditusuk dengan kayu atau batang. Cara membakarnya bisa dengan api unggun atau di dalam oven.

3. Menggoreng berdasar kadar minyak;

Deep frying : menggoreng dengan minyak banyak;

Pan frying: menggoreng dgn minyak sedikit;

Shalow frying: menggoreng dengan minyak seminimal mungkin.

4. Stir frying: mengoseng

5. Teknik memotong bawang dan sayur;

Jullienne: teknik memotong dengan bentuk seperti panjang dan tipis; Parisienne: teknik memotong dengan bentuk kotak seperti dadu

6. Marination: Proses merendam bahan masakan sebelum diolah, biasanya diberi perasan lemon, vinegar, wine, atau lainnya.


N

Niboshi: ikan sarden baby Jepang yang digoreng dan dijadikan snack. Selain itu, niboshi juga bisa dipakai sebagai perasa pada miso soup.


O

Orzo: Sejenis pasta yang berbentuk seperti butiran nasi.

 
P
Parfait :Dalam bahasa Perancis artinya "sempurna". Untuk mendeskripsikan kelembutan busa yang tercipta dari dessert/ makanan pencuci mulut yang terbuat dari krim, telur dan aroma vanili/lainnya.


Q

Quesadilla : Tortila jagung yang berasal dari Meksiko, paling banyak berisi keju cair. Makanan ini biasa disajikan dengan dilipat berbentuk seperti bulan setengah.


S

Sorbet: makanan pencuci mulut yang manis berupa frozen dessert terbuat dari paduan air dan buah. Susu tidak dikenal dalam pembuatan sorbet.


T

Table d’hote: Susunan menu hidangan lengkap mulai dari Appetizer, Main Courses, dan Dessert, namun jumlah jenis makanannya terbatas, gunanya untuk memudahkan kita memilih. Table d’hote diletakkan di atas meja saat jamuan makan di hotel ataupun restoran.


U

Unsaturated fats: Lemak baik yang berasal dari tumbuhan dan memiliki tekstur cair. Terbagi menjadi monosaturated fat, yaitu olive oil dan canola oil, sedangkan polysaturated fat adalah corn oil, sunflower oil, dan sesame oil.



V

Veal: Daging sapi yang diolah dan berasal dari anak sapi berumur tidak lebih dari delapan bulan.


W

Water bath: Istilah bahasa Prancisnya adalah ‘bain marie’. Water bath adalah teknik menghangatkan bahan makanan dengan wadah yang diletakkan di atas didihan air. Teknik ini biasanya digunakan saat melelehkan cokelat atau membuat custard.


X

XXX, XXXX, 10X: indikator tingkat kehalusan gula bubuk. Semakin tinggi jumlah ‘X’-nya, semakin bagus halus butirannya.


Y

Yarrow : Pewangi pada makanan berupa bunga atau dedaunan, biasanya digunakan untuk omelet dan salad.


Z

ZEST: Mengupas kulit terluar buah citrus dengan menggunakan pisau atau alat pengupas.


--Faye Yolody & Siksta Alia

Foto: thinkstockphotos


(Dimuat di Media Indonesia Magazine for Ipad/edisi 1)

***



Tuesday, February 7, 2012

Keeping Indonesia Alive-- Jay Subyakto

 


Keeping Indonesia Alive


Indonesia needs more people like Jay Subyakto, who embraces his mission to keep Indonesia’s traditional art and culture alive through his works.


Penampilannya sederhana, mengenakan kaos dan celana panjang yang serba hitam, lengkap dengan jaket yang dibordir lambang bendera merah putih. Dari dalam dirinya mengalir darah seni dan ide untuk mengangkat derajat negara Indonesia bergulir tiada henti melalui karyanya. Banyak hal yang patut dijadikan inspirasi orang-orang baik muda maupun tua dari seorang Jay Subiakto.


Blast from the past

Persis 20 tahun yang lalu, Jay hanyalah seorang mahasiswa jurusan arsitektur di universitas negeri terkemuka di Jakarta. Serpihan ilmu eksak dari perguruan tinggi ia kumpulkan untuk digunakan di masa depan kelak, namun bukan untuk menjadi seorang arsitek. Niatnya agar ia mengerti teknik untuk mendukung ambisinya di bidang seni.


Teman seperjuangannya dari kuliah adalah seorang komposer Indonesia, Erwin Gutawa. Selepas kuliah, mereka berdua lantas memulai karir di sebuah stasiun TV swasta. Sewaktu itu Jay bertanggung jawab untuk menayangkan program-progran TV yang masih ala kadarnya. Setahap demi setahap, ia belajar bagaimana menggunakan kamera TV dan mengedit.


Jay yang sudah yakin akan ketertarikannya pada dunia audio visual, membantu Erwin menggelar konser bandnya saat itu yang bernama Karimata, sebagai desainer lightingnya. Selanjutnya, bukan sebuah kebetulan mereka memiliki misi yang sama untuk menyelenggarakan konser untuk artis-artis Tanah Air yang berprestasi.


Pencapaian Jay berbuah di tahun 1994 melalui konser almarhum Chrisye yang pertama, di JCC Plenary Hall Jakarta. Tak semudah membalikkan telapak tangan, saat itu berbagai pertentangan berbagai pihak ia hadapi. Konser tersebut dinilai akan gagal, namun ia terus mempertahankan rencananya. Hasilnya, penjualan tiketnya bagus dan konsernya sukses. Namun sayang, euforia keberhasilan hanya ia nikmati sesaat, karena selama enam tahun Jay mengalami stagnansi dalam pekerjaan sehari-harinya.


Kembali, ia dipercaya untuk menggelar konser Chrisye yang kedua ’Badai Pasti Berlalu’ di tahun 2000. Merasa dirinya harus berkembang dan melanjutkan karya sesuai idealismenya, pria yang bernama lengkap Agara Wijaya Subyakto ini memutuskan keluar dari stasiun TV tersebut. ’’Industri televisi saat itu mulai bergantung pada rating, tak lagi mengutamakan program-program berkualitas, menurut saya itu pembodohan namanya,’’ ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, proyek-proyek konser berikutnya menyusul, mulai dari Ruth Sahanaya, Krisdayanti, 3 Diva, Rockestra (band Dewa, Slank, dan Gigi), sampai Anggun. Dari sanalah, nama seorang Jay Subiakto terdengar secara luas di dunia entertainment, lengkap dengan embel-embel idealismenya: hanya ingin menyelenggarakan konser khusus artis Indonesia.


My Father

Ada seseorang yang sangat memberinya inspirasi dan membuatnya menjadi seorang yang nasionalis, yaitu sang ayah. Jay mengakui, walaupun ayahnya adalah kepala staf tentara AL dengan citra yang kaku dan serius, tapi ternyata sangat mencintai seni. Sedari masih di kandungan, Jay sudah berkeliling dunia sementara ayahnya bertugas dinas. Lantas apa saja yang diajarkan sang ayah sehingga pria yang dilahirkan di Turki ini memiliki kecintaan yang tinggi terhadap Indonesia?


’’Ayah saya selalu bilang bahwa jangan pernah menganggap negara Barat paling hebat dan saya harus mencintai Indonesia,’’ ungkap pria yang menyukai fotografi ini. ’’Semisal saat saya ke Amerika, ayah memperlihatkan betapa ada perbedaan warna kulit yang sangat mencolok dan orang-orangnya individual. Kalau tidak masuk sekolah, tak akan ada teman yang meminjamkan catatan untuk saya,“ lanjutnya.


Proses transisi dari Jay junior ke masa dewasa, menggiringnya ke keputusan memilih karir. Dalam hidup, ayahnya membebaskannya untuk menjadi apa saja, asalkan Jay harus memiliki gelar sarjana dan mengenyam ilmu eksak yang akan berguna di kemudian hari. Itu juga yang membuatnya mengambil jurusan arsitektur di bangku kuliah.


Keputusannya untuk menjadi seorang sutradara dan penata artistik di dunia entertainment serta merta juga dilakukan sesuai pedoman sang ayah. “Ayah saya bilang, “bagaimanapun yang terbaik adalah negeri kamu, dan kamu akan dihargai orang ketika idemu orisinil dan berasal dari negerimu sendiri,” ” katanya seraya menirukan ucapan sosok inspirasinya itu.


Move. Create. Satisfy

Menjadi orang yang sering merasa bosan bisa menjadi hal yang positif untuk Jay. Dengan segala talenta yang ia miliki di bidang seni, Jay tidak hanya terpaku pada satu profesi, karena hal itu akan menimbulkan kejenuhan. Di samping menjadi produser, sutradara video klip dan iklan, Jay juga menjadi penata artistik teater musikal yang baru-baru ini dipentaskan yaitu ‘Matah Ati‘ dan ‘Musikal Laskar Pelangi‘.


Dalam musikal Matah Ati, Jay berkontribusi dalam memasukkan unsur wayang orang sebagai bentuk kebudayaan Indonesia. Kebudayaan wayang yang dipandang sebagai budaya yang kaku oleh para generasi muda, dimodifikasi tanpa menghilangkan pakem yang ada, lalu dijadikan format musikal. Menanggapi ketakutan pertunjukan tersebut tidak akan diminati di Indonesia, Jay melakukan strategi khusus. “Orang Indonesia kebanyakan lebih menyukai karya luar negeri. Jadi, Matah Ati dipentaskan dulu di Esplanade Singapura, dan ternyata responnya bagus sekali, setelah itu baru dipentaskan di sini,“ ungkapnya.


Dalam mempersiapkan Musikal laskar Pelangi pun, Jay bersama Toto Arto, Mira Lesmana, Riri Riza, Erwin Gutawa, dan Hartati menyatukan misi untuk menyebarluaskan isu krusial yang terjadi di Indonesia, yaitu masalah pertambangan dan imbasnya pada masyarakat, seperti yang diceritakan dalam novel Laskar Pelangi. Kemasannya dibuat semenarik mungkin melalui warna musik, koreografi, akting, sampai set panggungnya. ‘‘Dalam berkarya, yang penting buat saya adalah kepuasan diri ketika orang lain puas ketika menonton, jadi mereka pulang tidak hanya sekedar terhibur,‘‘ papar pecinta nasi liwet ini.


I’m not an artist

Di mata publik, Jay Subyakto dikenal sebagai seorang seniman Indonesia yang produktif berkarya sejak tahun 90an hingga kini. Tapi, ia justru merasa enggan bila disebut seniman. ‘‘Seniman itu kan orang yang hebat sekali, sementara saya hanya ada di belakang layar, membantu mengemas format acara para seniman itu,“ kilahnya. Lantas, apa kunci yang membuatnya selalu bisa berkarya dari masa ke masa, sementara banyak generasi-generasi baru di dunia entertainment?


Jay mengakui dirinya sangat selektif dan tidak terlalu sering mengerjakan proyek. Ia selalu mempertimbangkan siapakah yang mengajaknya bekerja sama. Apabila ada tujuan pribadi dan yang tidak sesuai dengan prinsipnya, ia akan menolak untuk bekerjasama. ‘‘Saya tipe yang tidak sering menjalankan proyek, tapi sekali bekerja, persiapannya akan panjang supaya hasilnya bagus,“ jelasnya. Soal pemasukkan honorpun ia tidak ambil pusing. “Saya tidak terlalu memikirkan uang ketika bekerja. Kalau kita tidak merasa cukup, sampai kapanpun uang akan selalu kurang,“ lanjutnya.


Karena itu Jay sangat menghargai keluarganya yang mengerti profesinya ini, walaupun tidak menghasilkan uang berlimpah, yang terpenting adalah ketika bekerja perasaannya senang. Apalagi menurutnya, kesenian adalah salah satu sarana untuk membangun negara.


Ia mencontohkan negara lain yang sukses membuat pertujukan broadway, juga patut kita perhatikan. Katanya lagi, Indonesia juga harus membuat suatu format seni pertunjukan yang baru, bukannya justru mengadopsi musikal broadway, seperti yang sekarang ini sering dilakukan di sekolah atau universitas di Indonesia. ‘‘Coba misalnya yang memerankan tokoh Cinderella itu orang Indonesia, ya nggak cocok. Sama halnya kalau bule jadi gatot kaca,‘‘ ungkapnya.



What’s next?

Ada beberapa impian yang masih ingin dicapai dalam hidupnya, di antaranya yaitu membuat film soal alam Indonesia, dengan konsep yang menurutnya belum pernah dibuat di Indonesia. Konsentrasinya adalah pada permainan audio visual, tanpa bergantung pada dialog naskah.


Sementara itu, ia juga sedang mengerjakan buku foto bersama beberapa temannya. Isi bukunya di samping mengenai keindahan alam, juga mengangkat soal kerusakan alam yang diakibatkan oleh manusianya sendiri. Buatnya, sungguh ironis bila yang diperlihatkan hanyalah keindahan alam Indonesia semata, padahal ada banyak isu lingkungan yang seharusnya diperlihatkan ke masyarakat dan cepat ditangani.


Di samping itu untuk memajukan industri kesenian, Jay berpartisipasi untuk menjadi konsultan pembangunan gedung pertunjukkan baru di Bali di waktu mendatang. Ayah dari seorang anak yang bernama Kaja Anjali ini mengidolakan kebudayaan dan adat istiadat yang ada di Bali, karenanya apabila gedung pertunjukkan tersebut terealisasi, ia berharap bisa menjadi wadah untuk mempertahankan kebudayaan di sana. ‘‘Tentu tak hanya di Bali, tapi kota-kota besar di Indonesia harus mengikuti jejaknya dengan menyediakan fasilitas kesenian yang layak untuk masyarakat,“ katanya.


Pada intinya, semua karya yang Jay hasilkan sepenuhnya berdasarkan moto hidupnya, yaitu kenapa tidak kita membuat sesuatu yang positif dan tidak terpikir oleh orang lain.

--Faye Yolody

Photos: Panca Syurkani

(Dimuat di Media Indonesia Magazine for Ipad/edisi2)

***



Classic Cars Expedition

I got the chance to meet the leader of Perhimpunan Pecinta Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) and other classic car community. Enjoy the article, because it's given for YOU all :)






Classic Cars Expedition



When most people compete to get the trendiest automobiles by some of the world's leading producers,
others prefer to hunt for the classics.


“Orang yang hobi mengoleksi mobil klasik dari tumpukan rongsokan seperti saya ini, namanya orang gila,” derai tawa tersemat dalam ucapan Dr. Soepomo Prodjoharjono, MSocSc, Akt. yang akrab dipanggil Pompi ini. Beliau adalah perintis Komunitas Penggemar Mobil Klasik (KMPK) di Indonesia.


Sebelum beralih lebih jauh, ada baiknya kita luruskan dulu persepsi pengertian mobil klasik. Sebabnya, banyak orang mengira mobil klasik sama dengan mobil kuno. Menurut Pompi, mobil yang tergolong dengan kategori klasik adalah mobil yang bentuknya indah, tak habis dimakan zaman. Dari segi usianya, masih tergolong muda, sekitar 30 tahun ke belakang. Sedangkan mobil kuno adalah heritage, mobil yang sudah sangat tua dan jarang ditemui di jalan.


Sementara menurut HM Bambang Rus Effendi, Ketua Umum Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PMKI), mobil yang disebut klasik tidak dipengaruhi oleh usia, melainkan dari modelnya yang memiliki detil yang indah. Selain itu, terkadang jumlah produksinya yang terbatas, seperti Ferarri keluaran tahun 2000an, juga bisa disebut klasik. Sebaliknya, mobil yang dikategorikan kuno identik mobil yang usianya paling muda 40 tahun ke belakang.


A Priceless Art

Kegiatan mengumpulkan mobil klasik maupun antik merupakan seni yang tak ternilai bagi para kolektornya. Pasalnya, setiap mobil memiliki cerita tersendiri di balik bilik perjalanannya, baik berhubungan langsung dengan sang kolektor, ataupun dengan para tokoh yang berpengaruh. Hal itulah yang mempengaruhi keputusan orang untuk menambah koleksinya. Pompi yang kini menyimpan 22 unit mobil klasik, selalu memilih brand mobil yang memiliki kenangan dengan dirinya di masa muda. ’’Saya sewaktu remaja pertama kali belajar menyetir dengan mobil Corolla, jadi sampai sekarang pun saya senang mencari mobil itu. Spesifikasinya juga saya sudah hafal,’’ujarnya.


Lain dengan Bambang yang melihat histori mobil dari sisi yang berbeda. ’’Saya lihat dulu mobil dengan brand itu pernah dipakai oleh siapa dalam sejarah,’’ ujar pemilik mobil Pontiac, Dodge, dan Morris ini. ’’Morris Minor saya, mobil Mr. Bean ini, di tahun 60an adalah angkutan umum yang sangat populer di Indonesia. Mobilnya kuat dan irit bensin. Bahkan, sering saya jadikan kendaraan touring ke luar pulau,’’ lanjutnya. Contoh mobil lain yang ia kagumi historinya adalah Chevrolet Impala, mobil kepresidenan pada era Soekarno.



Muncul pendapat lain dari Frelon Adi Drijono, seorang praktisi di sebuah bank asing, ia menyukai mobil klasik eropa semenjak berkuliah di Australia tahun 1992. Alasannya, mobil eropa lebih dinamis, teknologinya terdepan, dan interiornya lebih stylish pada zamannya, dibandingan mobil Jepang dan Amerika. Tambahnya lagi, mobil eropa yang terkesan gagah lebih sesuai dikendarai di Indonesia yang bentuk jalanannya berliku-liku seperti di negara-negara Eropa sendiri.


Frelon pernah memiliki mobil Mercy Tiger, Volkswagen, Mercedes Mini, Jeep Hardtop, dan Peugeot 504. Buatnya, kenangan yang dibawa oleh brand mobil tertentu bisa membangkitkan kenangan dalam dirinya. Semisal mobil VW adalah kendaraan ayahnya saat dinas dulu. Saat ini, mobil impiannya yang belum kunjung dimiliki adalah Morris Mini dan Volkswagen Karmman Ghia.


Setelah sukses mendapatkan mobil klasik impian, masih banyak hal yang harus dilakukan oleh kolektor. Seni, seperti kata para seniman, sebuah kepuasan yang tak ternilai harganya, diamini oleh Bambang dan Pompi. Menurut mereka, sebuah kepuasan dan tantangan tersendiri untuk membangun atau memperbaiki kerusakan mobil klasik menjadi sempurna. Suatu waktu Pompi pernah membeli mobil Fiat 1100 di Purworejo. Secara fisik, bodi mobil tersebut masih mulus—begitu istilah untuk mendefinisikan fisik mobil yang bagus, tapi onderdilnya tidak lengkap. Solusinya, ia membeli mobil yang persis sama di Surabaya, lalu memindahkan onderdilnya ke mobil Fiat pertamanya. “Kalau sudah suka sama satu mobil, pikiran sudah tidak rasional lagi,”ujarnya.


Purist vs Retro, Collector VS Racer

Kolektor mobil klasik terbagi menjadi dua, yaitu purist; orang yang tidak suka menambahkan aksesoris yang memudarkan originalitas mobil klasiknya, dan gaya retro; penggemar mobil klasik dengan segala pernak-pernik tambahan untuk mendekorasi fisiknya. Kebetulan, Bambang, Pompi dan Frelon adalah tipe purist, karena tidak ingin kehilangan unsur originalitas suatu mobil klasik beserta kenangan dan histori di dalamnya.


Dari segi fungsi, prinsip kinerja mobil klasik mirip seperti tubuh manusia. Semakin tua usianya, semakin terbatas aktivitas fisiknya bila tidak dirawat dengan baik. Namun, kembali kepada pilihan, apakah hanya ingin menjadikan mobil klasik sebagai koleksi, dipakai sehari-hari, atau dimanfaatkan untuk ajang balapan.


Bagi Pompi, mobil-mobil klasik dimilikinya untuk diperbaiki jadi sempurna untuk menambah koleksi. Apabila ada yang berminat membeli, bisa dijual dengan tidak berorientasi pada profitnya. Bahkan ia seringkali membali mobil mobil klasik dengan harga tinggi tanpa berusaha menawar, kemudian diperbaiki dan dijual dengan harga terjangkau. Buatnya, cukup memandangi koleksi mobil klasik yang terparkir di halaman, bisa membuatnya berpuas hati, tanpa memikirkan nominal.


Sedangkan bagi Frelon, ia menjadikan kecintaannya dengan mobil klasik menjadi sekedar sebuah kesenangan, bukan hobi yang harus diprioritaskan. Buatnya, apabila sudah ‘kecanduan’ dengan mobil klasik, bisa-bisa hal penting, seperti keluarganya terabaikan. Di sisi lain, Bambang memaksimalkan manfaat mobil klasik untuk balapan, melalui Indonesian Race Festival, ajang balap mobil klasik, yang diselenggarakan oleh PPMKI di Sirkuit Sentul beberapa waktu lalu.


“Morris Minor saya berhasil menempuh jarak 4.7 km dalam kecepatan 2 menit 30 detik saja. Jadi kualitas mesin tidak akan mengganggu bila kita tahu cara merawatnya,” bebernya. “Ajang balapan ini cukup banyak peminatnya, bisa mencapai 48 peserta dari seluruh Indonesia. Indonesia adalah satu-satunya negara Asia yang mengadakan acara balap ini,” katanya kemudian.


High maintenance, high cost?

Biaya tinggi berbanding terbalik dengan intensitas perawatan. Berikut ini tips dari Pompi dalam merawat mobil klasik, guna meminimalisasi biaya yang dikeluarkan:

- Panaskan mobil setiap hari walaupun tidak dipakai.

- Hematlah bahan-bahan yang consumable seperti aki

- Parkir mobil di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung supaya kondisi cat tidak memudar

- Rutin mengelap atau mencuci mobil


Tips khusus untuk menjaga kenyamanan saat mengendarai mobil klasik dari Bambang Rus Effendi:

- Bila mobil bermasalah ketika berkendara, jangan serta merta menganggap masalahnya terletak pada mesin. Pastikan sirkulasi air di dalamnya lancar, karena itu adalah hal yang vital.

- Sempurnakan shock breaker dan remnya

- Tambahkan perangkan AC, karena kondisi cuaca sekarang lebih panas daripada zaman dulu ketika mobil klasik atau kuno diciptakan tanpa AC

- Jangan takut dengan biaya perawatan rutin yang selalu harus keluar. Biaya tinggi biasanya hanya sekali diperlukan saat kita memperbaiki keadaan mobil setelah dibeli. Seperti Morris miliknya yang dibeli seharga dua juta, membutuhkan biaya sebesar 25 juta Rupiah di awal perbaikan.


Facts about classic car around the world

- Mobil Isuzu Piazza hanya masuk ke negara Amerika dan Australia. Di Amerika, mobil ini dikenal sebagai Isuzu Impulse, dan di Australia disebut Holden Piazza.


- Batmobile, mobil yang dipakai dalam serial TV Batman sekitar tahun 1966, adalah mobil Lincoln Futura yang didesain oleh George Barris.


- Industri mobil pertama di Israel dibangun oleh Autocars Co. Ltd dan merk mobilnya adalah The Sabra di tahun 1950an. The Sabra yang artinya “terlahir di Israel” dengan logo pohon kaktus ini menggunakan fiberglass sebagai bahan pembuatan mobilnya.


- Mobil Jepang yang pertama kali laku di Inggris adalah Daihatsu.


- Dodge Brothers Company, industri mobil Amerika yang namanya melambung di sekitar 60 negara di dunia semenjak tahun 1900an, didirikan oleh John Dodge dan Horace bersaudara.


- Malcolm Bricklin adalah orang yang memperkenalkan mobil Subaru ke Amerika. Di tahun 1970, ia membawa mobil sport Bricklin SV-1 ke Amerika yang diproduksi di Kanada.


- Mercury Cougar adalah mobil keluaran Ford yang sangat bergengsi di tahun 1967 di Amerika. Mobil ini adalah wajah baru dari tampilan Ford Mustang, dengan model yang lebih elegan. Tipe GT 390 adalah Cougar yang paling powerful pada zamannya.



Penulis: Faye Yolody
Photo: Adam Dwi Putra & Dok. MI
(Dimuat di majalah First Priority/Edisi 10)


***

Life with Projectors




LIFE WITH PROJECTORS
Like a kite runner, Janto Susanto had to feel the wind before he could build his momentum.
But once he did, he soared higher into the sky and ultimately conquered it. For him,
doing business his way is a lot like mastering the art of running a kite.

Benda kecil bernama mesin proyektor sudah diakui kehebatannya untuk memudahkan aktivitas perusahaan di berbagai belahan dunia. Adalah Janto Susanto, Direktur Utama PT Triyaso Telekomindo, perusahaan distributor yang memperkenalkan mesin proyektor Infocus ke Indonesia. Dengan penampilannya yang sederhana dan cara bicaranya yang ramah, ia bercerita soal perjalanan bisnis ini dan prinsip hidupnya kepada FirstPriority.


Study, learn, and practice

Terlahir dari pasangan pedagang ikan asin di sebuah kota kecil Kuningan di tahun 1960, Janto Susanto adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Kegiatan sehari-harinya sedari remaja membantu orangtuanya berjualan di pasar, dan dari sanalah ia belajar bisnis secara otodidak. Ketika lulus SMA dan hendak masuk kuliah, ia diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB), lalu ia memutuskan mengambil jurusan yang populer pada masa itu: teknik telekomunikasi.


Seusai kuliah, ia bekerja selama empat tahun di sebuah perusahaan telekomunikasi. Ketika itu jabatannya sales, yang pada akhirnya ia dipromosikan menjadi sales manager yang menjual produk alat ukur. Ia belajar cara berjualan dan sistem distribusi. Lalu, jiwanya serasa terpanggil untuk membangun bisnis sendiri, dan ia tak menunda waktu lagi dan mengundurkan diri dari perusahaan tersebut di usia 31 tahun. Ketika itu Janto dianggap ‘nekad’ oleh banyak orang, karena di saat pernikahannya akan berlangsung dua bulan lagi, ia justru melepaskan pekerjaannya.

Buatnya, usia untuk memulai bisnis sebaiknya tidak terlalu tua, karena ketakutan dalam hidup akan semakin besar seiring usia bertambah. Merasa cukup mengenyam teori yang selama kuliah dan pengalamannya bekerja sebagai sales baginya sudah cukup. Selanjutnya, ia harus melakukan praktek bisnis di bidang general supplier melalui PT yang dirintisnya bersama keempat kakaknya.


Trust is key

Bermodalkan uang 50 juta Rupiah, yang merupakan hasil urunan bersama kakak-kakaknya, Janto mulai merangkak perlahan-lahan. Pada masa transisi itu, ia melakoni hari dengan bertanya ke teman-teman yang bekerja di perusahaan besar dan mengajukan diri sebagai distributor barang. Sempat ia dibantu temannya menjadi distributor baterai Handy Talky di perusahaan minyak.


Dua tahun kemudian, keadaan berubah. Adiknya yang saat itu bersekolah di Amerika mencoba mengajukan proposal untuk menjadi distributor mesin proyektor Infocus di Indonesia. Proposal disetujui, lantas Janto dipercaya menjadi distributor sejak saat itu.


Ditanya rahasia sukses apa yang ia terapkan dalam menjalani bisnis, Janto tertawa renyah. “Caranya tidak canggih, resepnya hanya kepercayaan dan kerja keras. Kepercayaan itu timbal balik, karena komitmen penuh sifat kerja keras yang saya miliki, maka kakak dan teman-teman saya tak segan membantu,” ungkapnya.


Demikian juga terhadap customer, Janto menjalin hubungan berdasar kepercayaan dan menjamin kenyamanannya dengan fasilitas yang diberikan. Salah satu bentuknya adalah bila proyektor customer rusak, customer akan dipinjamkan proyektor lain sementara perbaikan sedang dilakukan.


Saved from a crisis

Menjadi distributor tunggal bukan berarti tak mengalami masalah. Saat krisis tahun 1998 lalu, daya beli masyarakat menurun drastis, dan itu berpengaruh pada tingkat penjualan proyektor. Hanya saja, Janto pintar melihat peluang, di mana saat itu internet semakin dibutuhkan untuk memperlancar komunikasi. PT Triyaso Telekomindo lantas mendistribusikan produk modem agar terus mendapat pemasukkan. Menyusul distribusi beberapa brand teknologi alat komunikasi lainnya.


Namun, dari sekian banyak merek, hanya Infocuslah yang paling kuat ‘chemistry’nya dengan Janto hingga kini. Terbukti, sejak tahun 1993 sampai sekarang ia dipercaya sebagai distributor tunggal brand tersebut.


Business Recipe


Di samping itu, Janto selalu berusaha untuk menyejahterakan ke-50 karyawannya. Di balik tubuh setiap karyawan tersebut, ada keluarga yang harus diberi makan. Jamsostek dan pemberian gaji yang layak selalu menjadi perhatiannya. Sedangkan prinsip yang ia terapkan ketika berhubungan dengan para karyawannya adalah prinsip kekeluargaan. “Office boy pertama saya masih bekerja sama saya sampai sekarang. Sudah 20 tahun loh.. Mungkin dia feels like home di sini,” katanya.


Tanggung jawab terhadap kehidupan karyawannya juga menjadi salah satu motivasi ia terus bertahan. Menurutnya, seorang pengusaha harus memiliki tanggung jawab itu, karena pada intinya di balik setiap perusahaan adalah manusia.


Lantas, bagaimana pandangannya soal para calon perintis usaha baru di Tanah Air?

Keberanian dan fokus yang kuat. Berani untuk memutuskan dan meninggalkan pekerjaan, juga mendalami pengetahuan di bidangnya menjadi tips darinya. ’’Kesempatan untuk berbisnis di Indonesia sudah lebih terbuka, walaupun saingan banyak. Jangan cuma orang asing yang bisa berbisnis di sini, tapi orang lokalnya juga harus lebih banyak,’’ ungkapnya.


Spiritual living

Di balik perjuangan dan perjalanan bisnisnya, Janto merasa ia termasuk beruntung karena tidak pernah mengalami kegagalan yang terpuruk. Jalan hidupnya seperti mengalir begitu saja ke arah yang lebih baik, taraf hidupnya meningkat, juga selalu bertemu orang-orang yang membantu.



Karena itu, untuk menyesuaikan kesuksesan yang digenggamnya, inilah saatnya untuk aktif kegiatan keagamaan dan berbagi dengan sesama. Namun ada sebuah mukzizat yang ia harapkan selama bertahun-tahun pernikahannya tapi tak kunjung muncul, yaitu keinginannya memiliki anak. Tapi, tidak memiliki anak, tak menjadi halangan baginya untuk menjalani dengan perasaan senang dan hidup sesuai ajaran agamanya.


“Saya hampir tidak pernah merasa stress. Jadi ya menjalani hidup seperti ini saja, senang tanpa harus merasa terbebani,” akunya sambil tersenyum.


Penulis: Faye Yolody

(Dimuat di majalah First Priority/Edisi 9)

***