Yolody's Room
Friday, April 1, 2011
Kumis boleh mirip Hitler..
-Desak-desakkan (bau ketek alias polusi udara)
-Interior bus semakin jelek
-Armada sedikit
Yah kira-kira begitu, kalau tulis kebanyakan saya takut diciduk om Foke yang ngaku sebagai 'sang ahli' pas masa kampanye.
Hari ini, saya menemukan faktor lain yang bikin nggak nyaman di TransJ, yaitu: polusi suara.
Kejadian di halte Slipi, petugas pintunya memang rajin sekali bekerja. Setiap kali bus akan berhenti, ia selalu mengumumkan perhentian berikutnya, padahal speaker pun nyala. Lalu, seorang bapak tua India atau Arab (apapun itu) berkumis seperti Hitler menerima telepon, dengan suara kencang sekencang-kencangnya.
"AH WAHL SYA LA LA LNG BLE ZUI GIL BLE HGUERHGJE RHFHERU BFUVHEURH WIEJRU!"
Semoga meneleponnya tak lama, pikirku.
"ERUHUIE FJURE REUHG AOIRJ ERUGPOEF AERUHG DVU!!"
Suaranya semakin keras.
Tak lama, seorang ibu di bangku belakang tak mau kalah, juga menjawab telepon. Untungnya ia perempuan, jadi suaranya lebih halus.
"Iya, diselesaikan dengan kekeluargaan saja.."
"JSHFU RH UHER EHG WOIRU HFUREH RITUDFJ JGAH!!!"
Lalu, si petugas pintu yang rajin itu kembali mengumumkan.
"Pemberhentian selanjutnya, halte Semanggi. Periksa barang-bar.."
"SDHFH RJFJDC UHU H UR F IFWIR RGFYUEQH RU JKADHFI AURFH!!!"
"Apa? Oh ya, iya.. saya tahu.."
".. dan hati-hati melangkah."
"JDFH RGHER UFHURHG EHRGU ARUGUHWE F WRUF!!!!!"
"Iya, oke daaah.."
"Melangkah hati-hati, terima kasih."
"EUHFRU ERHGUEH A UHRCUH HQWE HRFH!!!!"
Selanjutnya, kompetitor lain kalah telak. Suara si Ibu menghilang, dan si petugas kayaknya minder juga. Si kumis Hitler jadi juara tunggal. Kupingku jadi mau tak mau hanya mendengarkan suaranya. Terus menerus, sampai halte Kuningan kalau tak salah. Bisa bayangin, dari Slipi ke Kuningan dengan jalanan macet itu memakan waktu cukup lama, bukan?
Gila.
Saya ngebayangin, punggung bapak itu yang posisinya persis di belakangku, kusodok pakai payung yang ada di dalam tas ibu-ibu di sampingku.
Di otakku, kejadiannya begini: Saya pinjam payung ibu itu, terus kudorong ujung payung itu ke arah kepala si bapak edan itu, sampai kepalanya kejedut tiang di depannya. Lalu dia marah, mau memukul saya Tapi, penumpang lain dan si petugas yang rajin tentu membela saya. Alhasil malah bapak itu yang digebukin rame-rame.
Lalu, saya disorak-soraki lalu dilempar ke udara selayaknya pahlawan. Lalu saya diberi gelar sebagai "Transjakarta Superhero", lalu diberikan fasilitas naik TransJ gratis seumur hidup. Bahkan, bus TransJ juga disediakan khusus untuk menjemput saya di kantor setiap sore."
(okay, saya tahu khayalannya agak nggak penting. Beginilah kalau punya profesi penulis, khayalannya agak ajaib.)
Kembali ke si kumis Hitler. Memang mentang-mentang dia berada si negara orang, dan orang nggak mengerti bahasanya dia, dia lantas teriak-teriak seenak kumisnya?
Huh, benar-benar..
Tuesday, March 15, 2011
Sejak kapan sih aku chatting sama kamu?
Pembicaraan yang ga penting tapi dibahas sampe panjang lebar...
Faye says:
u know what si bibir sekali pernah bilang,
katanya g jangan bareng sama dia terus, temenin tata gitu katanya.
coba klo lu pegi ama pacar lo terus ada g, g dicuekin abis deh huehuehuehue
~ Kharista (R) says:
hahahaha baik skali bibir mau berbagi kamu padaku.
i loph u bir! (blg in bbir ya)
eh btw, lu senenk ya g ga ada pacar jg nempel sama lu? wkwkwkwkwk
Faye says:
bukan gt, cm krn g baek aja mau ditempelin ama lu
coba uda ada pcr, gue kl ke sg bisa ditinggalin di kereta deh
~ Kharista (R) says:
hahaha lu jelek bgt sih mikirnya g ga sejahat itu!
emank g klo ada pacar blagu ya?
maaphkan aku telah menelantarkan mu selama ini darling
Faye says:
bwahahahah akhirnya sadar
~ Kharista (R) says:
ih aku tanya beneran? g overexcited on 1 thing jd lupa sama lu kali ya
Faye says:
emberr.
pas lu putus baru deh manggil2 g,kl ga mana pernaaah
~ Kharista (R) says:
idih
DLU BLOM PUTUS JG PANGGIL2 LEPEH
Faye says:
itu pas mo putus
~ Kharista (R) says:
gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Faye says:
die marah wakakakakkakkakakkkkk
~ Kharista (R) says:
putusny udah lama setelah itu aku ga trima!!!!!!
Faye says:
kagakkk g inget bgt kok yeeee
~ Kharista (R) says:
ih aku dah sering panggil2 km lama sblom putus!
http://fayeyolody.blogspot.com/2009/xx/xxxx
tuh buktinya g ubek2 blog lu! huh terbukti klo AKU BENAR
Faye says:
aih lu kan periode 'mau putus'nya jg panjang
~ Kharista (R) says:
NGEMENG AJA LU hahaha lu harus mengakui
Faye says:
ya deh nyerahhh itu bln apa?
~ Kharista (R) says:
asik lepeh nyerah!
Faye says:
buset lah lu putus kapan? 2009?? emang dr 2009??
bukan dr bulan okt 2010??
~ Kharista (R) says:
iya g putus 2010!
Faye says:
kt chatting dr 2009? mana mgkn dodooooll
~ Kharista (R) says:
iya! jelek
Faye says:
g aja ke Jpg Des 2009 emang sblm g k jpg uda ceting2 ama lo?
ngarang loe
~ Kharista (R) says:
kan aku tau kamu ke jepang ih itu blog lu!!
Faye says:
itu salah tanggal!
~ Kharista (R) says:
klo gitu blog lu ngaco
Faye says: wakakakka
~ Kharista (R) says:
hahahahahhaha
FINE! ga mw ngaku
Faye says:
duh perut makin sakit wkakaka
~ Kharista (R) says:
ahahhaha dosa ngibul
Faye says:
kok g ingetnya kt ceting2 ps akhir 2010 sih? whuhahahaa
~ Kharista (R) says:
yah ingatan lu bisa dipastikan ngaco..
memory loss.
hahaha
posted by Tata. (btapa baiknya papai mau meminjamkan blog nya. 谢谢)
Beauty Spread eve March 2011
Monday, March 14, 2011
Mengaum di negeri Singa
Dua malam di negeri singa bersama orang-orang terdekat, adalah sesuatu. Koper berat, jalan capek, duit habis, nggak bisa jadi perbandingan.
Kami menginap di River City inn, sebuah flat di lantai empat dengan kapasitas lebih dari 42 orang. Suasananya enak. Kecil, penuh tapi tak sumpek. Ada bule yang lagi chatting, orang Cina yang lagi baca, filipino yang lagi mengobrol. Ada orang-orang Indonesia yang lagi ngos-ngosan bawa koper. Itu kami.
Siang pertama, kami mengisi perut di food court Central Mall, tak jauh dari hostel kami. Menu Mee Rebusnya enak. Yang kami takjub, pelayan restorannya tak memegang kertas dan bolpen saat kami memesan. Jadi, seberapa banyak kami memesan, ia mengingatnya. Tisu pun tak pernah disediakan di semua restoran. Apakah saking go-greennya mereka?
Setelah itu, kami berburu tiket terusan MRT untuk turis. Cukup mengeluarkan kocek 24$ plus 10$ untuk deposit, kita bisa berkeliling Singapura dengan MRT. Cukup melakukan sensor kartu. Tiit..
Sorenya, kami mengunjungi Science Centre. Di sana, segala wujud ilmu fisika membentuk permainan-permainan yang unik dan pintar. Dengan biaya sekitar 9$, kita bisa melihat semuanya. Setelah itu, kami ke Anchorpoint, sebuah mal di daerah Queenstown. Saya dan Tata, membeli dress murah meriah di Cotton On. Memang seperti anak kembar, kami membeli dress yang sama. Tentu ukurannya berbeda. He he..
Malam di hari pertama, saya terkena musibah. Serasa hidup di zaman dulu sebelum ada telepon. Pulsa habis, padahal saya janjian dengan beberapa teman di sana. Saya dan Edwin berencana bertemu Nora di depan Ion Plaza Orchard jam setengah 8. Ia sudah menunggu sejak jam setengah tujuh, dan ketika kami datang satu jam berikutnya, ia lenyap. Perut lapar mulai menggonggong. Kami pasrah dan menyeberang ke Lucky Plaza untuk makan mie sichuan.
Mi sichuan ditaruh di meja, sambal ditangan lekas tumpah karena mendapat sms kalau Nora ada di foodcourt Ion Plaza. Perasaan tak menentu saat makan. Mie dengan sambal super pedas jadi terasa hambar. Tak lama, saya berjumpa dengan seorang teman SMA di salah satu counter makanan. Satu sisi kaget, satu sisi senang ada teman yang bisa dipinjam Hapenya untuk mengirim sms.
Kekesalan terhapus begitu kami bersua. Sudahlah.. Namanya juga miskomunikasi.:)
Hari kedua, *maaf saya harus berhenti sampai di sini*nanti saya lanjutkan*
Empat Belas
Seperti bulan lalu, tanggal 14 Februari. Bukannya asyik makan malam sama pacar, atau sibuk berdandan dan memilih film apa yang mau ditonton, saya berkutat di balik bilik meja kerja saya. Kerja di majalah, resikonya ya.. Tak pandang jam atau tanggal. Bisa dalam seminggu empat hari du luar kantor. Ya entah itu memenuhi acara undangan (kalau yang suka makan seperti saya harus berhati-hati), mewawancarai orang, atau mencari barang-barang untuk direview.
Bila semua materi sudah terkumpul, ya tinggal ngendok di bilik. Autis. Seperti Valentine lalu, saya lembur sampai jam 11 malam. Pacar dan teman baik saya datang menjemput. Tengah malam makan di warung tenda.
Lalu hari ini. Tanggal 14. Tepat di hari Senin. Tumben, anak-anak kantor cepat sekali pulangnya. Jam setengah enam sore sudah sepi. Untungnya saya weekend kemarin sudah begadang-begadang menyelesaikan sebagian besar artikel, jadi saya tak perlu lembur di kantor berlama-lama. Padahal tadi pagi, saya sudah menyiapkan mental untuk lembur di kantor. Plus pergi tanpa make-up sama sekali.
Oh iya, poin yang juga ingin saya share yaitu tentang how fast life runs when you're working in magazine. Pasalnya, otak saya itu selalu berpikir maju ke depan, at least sebulan ke depan. Seperti ini, sekarang bulan Maret, otomatis orientasi saya adalah mengerjakan artikel untuk bulan April, atau bahkan Mei. Begitu seterusnya. Seperti roda yang sedang berputar tapi harus dipegang. Tubuh kita jadi ikut berputar cepat. Semua ini bikin saya jadi lebih menghargai hidup.
Anyway, sekarang masih jam setengah delapan malam, saya sudah mandi dan menulis blog. Senang sekali rasanya punya waktu seperti ini. Sekarang, saya mau makan dulu di bawah.. Lalu semoga habis ini saya menulis blog lagi. :) *crossfingers*
Sunday, March 6, 2011
Chaos before the flight
Dua minggu sebelum berangkat..
Tata, sahabat saya yang cerewet berkali-kali mengingatkan saya untuk segera melaporkan nomer paspor ke maskapai penerbangan yang sering memberikan promo (ya betul penonton, Airasia!!). Dia mengomel bak genderuwo, “ampun deh gueee udah kayak emak lu aja. Gue sih nggak mau nungguin lu ye, bye-bye aja kalo lu ga bisa pergi.”
Segeralah saya meneruskan ke Edwin. “Tuuut.. Rumah kamu kan deket Airasia. Deket kantorku ada juga sih, tapi kan panas jalan siang-siang.. ” Kalimat pembuka itu sudah cukup jelas bukan saya meminta tolong apa? Malamnya, sepulang dari Airasia, Edwin bilang, “Pasporku udah nggak berlaku. Aku baru ke imigrasi buat perpanjang, selesainya tanggal 23.” “Whattttt?????” saya langsung nungging karena stress, mengingat penerbangannya tanggal 24.
Satu minggu sebelum berangkat..
Pagi-pagi, dapat kabar bahwa neneknya Edwin meninggal di Surabaya. Edwin harus cabut ke kampung halamannya hari Sabtu pagi. “Sampai kapan?” aku bertanya. “Rabu pulang.” “Whaaaat?????” saya nungging lagi, mengingat besoknya berangkat.
Untung Edwin dapat kesadaran dari surga langit ke-tujuh untuk pulang lebih awal, hari Selasa malam.
Satu hari sebelum berangkat..
Hari itu hari Rabu tanggal 23. Pagi-pagi, sudah kuteror Edwin untuk segera ambil paspornya dan melaporkan nomernya ke Airasia. Hari itu seharian saya bekerja di rumah. Tahu apa yang saya lakukan? Demi mendapat bahan tulisan mengenai teknologi beauty di majalah tempat saya bekerja, majalah eve, saya mendapat pencerahan. Saya mencari dokter kecantikan di Singapura untuk saya wawancara. Saya bikin janji, saya memebuat pertanyaan. Komentar teman-teman kantor, “rajin amat lo cuma tiga hari ke Singapur, malah nyari kerjaan!”
Hari itu juga, saya baru bertanya macam-macam ke Tata lewat Yahoo Messenger.
“Ta, besok kita si Singapura jalan ke mana aja?”
“Ta, gue wawancara dokter enaknya hari apa?”
“Ta, hostel kita di daerah mana?”
“Ta, koper batas beratnya berapa?”
“Ta, boleh bawa liquid?”
“Ta, lo bawa selimut ga?”
Semua itu dijawab dengan “gua tabok bolak balik ya hari gini baru panik nanya!”
Saya bekerja sampai sore, itupun sudah ngebut karena malamnya saya mau menonton pertunjukan Jakarta Love Riot di GKJ sama Edwin. Begitu jam enam sore, Edwin menjemput saya. Sebelumnya, dia bilang nggak sempat jemput saya karena dia masih sibuk menyelesaikan skenario. Taring-taring saya hampir muncul, untungnya dia menyerah dan tetap menjemput saya.
“Mana kopermu? Kan subuh nanti mau berangkat bareng dari sini.
“Nanti habis nonton kita ke rumahku dulu (di kelapa gading), ambil koper, lalu ke rumahmu lagi.”
“^%^*&(*&(*)(*.. Ok.”
Ketika nonton..
Di tengah pertunjukkan, jam 10 malam, teman kantor saya mengirimi saya bbm. Katanya ada satu rubrik artikel yang layout-nya belum saya cek. Gaswat, saya ada kemungkinan harus mampir ke kantor lagi. Untung saya selamat berkat teknologi I-phone-nya si pacar. Saya bisa mengecek layout lewat email. Alhasil, saya tak terlalu menikmati pertunjukkan.
Jam 12 malam sepulang menonton, ibu saya memberi titah saya dan Edwin harus segera ke Hotel Mulia mengambil makanan dari kakak saya yang lagi ada di sana. Dari sana, segera meluncur ke rumah Edwin (saya sudah sebut kalau lokasinya di Kelapa Gading?)
Jam 01.30..
Ok, Edwin bawa delapan biji kaos buat tiga hari. Saya bongkar lagi. Empat kaos cukup. Dia masukkin satu lagi. Lima, okelah. (saya aja cuma bawa tiga baju, saudara-saudara!). Packed. Ngobrol bentar sama papa-mamanya yang kita bangunin.
Jam 2.00
Ke 7/11 dulu belanja popmie, lalu ke rumah saya. Tiba-tiba, kacamata hitam andalan saya hilang. Matahari masih tidur tapi saya dan Edwin lagi heboh nyariin kacamata. Nggak ada kacamata, nggak ada Singapura! Akhirnya, keresahan terjawab. Kacamata sembunyi di tumpukan baju di kasur.
Edwin ngorok, saya masih mikir-mikir apa ada barang yang ketinggalan.
“Groook.. Zzzz.. Syuutt..”
“GROOOO..OOKK.. ZZZ.. SYUUUT…”
Ngoroknya makin besar. Makin saya malas tidur. Hiks.
Jam 3.30..
Supir saya datang siap mengantar ke bandara. Saya mandi. Tak lama, Tata datang.
Jam 04.00..
Edwin dan Tata berusaha menutup koper saya yang nggak tahu kenapa nggak bisa ditutup. Bongkar lagi, popmie dikeluarin. Kasihan, Edwin belum sempat gosok gigi.
Jam 4.10..
Pagar sudah dibuka, tinggal berangkat. Edwin masih sibuk ngambilin kue di kulkas.
Saya tak sangka, selamat juga sampai di airport.
*bersambung ke cerita jalan-jalan di Singapura. Enjoy! *
Monday, December 6, 2010
Kosong Judulnya
Mungkin memang sudah seharusnya saya di sini. Bila tak terpaksa, saya sulit menemukan waktu hanya untuk diri saya sendiri. Rasanya jiwa saya sudah berbaur dengan segala pekerjaan dan urusan lain, hingga saya bingung bagaimana menemukan kembali diri saya. Mungkin karena itu juga blog saya sudah lama tak diisi. Bingung apa yang harus ditulis.
"Coba rebahan di kasur, merem, jangan pikir apapun," begitu kata sahabat saya.
Susah sekali rasanya untuk melakukan yang terakhir: jangan pikir apapun.
Well, saya merasa kosong. Dulu, saya selalu berdoa setiap pagi. Doa saya selalu berisi rasa terima kasih bisa bangun dengan segar dan berharap hari yang saya jalani akan lancar. Tapi, beberapa bulan ini, bahkan saya bingung ketika berdoa. Jadilah doa saya hanya formalitas belaka.
Saya merasa jiwa saya di luar sana sedang asik berkeliaran sendiri, mungkin sedang main layangan seperti anak autis. Jiwa saya melupakan diri saya sedang duduk di sini, dengan secangkir kopi, dan jari menari di atas laptop.
Hidup saya seperti hanya merobek kalender selembar setiap harinya, dan beraktifitas seperti robot. Seperti ada tombol yang bisa mengatur perasaaan. dan tombol untuk merasa 'hidup' sedang rusak dan harus diperbaiki. Tapi belum ada yang memberikan referensi tempat servis mesin yang bagus dan bergaransi.
Saya tahu, emosi saya meluap-luap. Saya sangat ekspresif. Di kala senang, saya bisa senang sekali. Di kala sedih, bisa sedih sekali. Makanya tak heran saya tak bisa menahan tawa. Tapi, saya sedang merasa kosong, dan itu menjadi terasa sekali.
Jadi, sekarang saya lagi mencari cara bagaimana mengisi kekosongan ini. Diam menjadi salah satu pilihan cara saya. Yaa.. nikmati saja kekosongan ini. He he..
Have a great day.



