Yolody's Room

Tuesday, February 7, 2012

Classic Cars Expedition

I got the chance to meet the leader of Perhimpunan Pecinta Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) and other classic car community. Enjoy the article, because it's given for YOU all :)






Classic Cars Expedition



When most people compete to get the trendiest automobiles by some of the world's leading producers,
others prefer to hunt for the classics.


“Orang yang hobi mengoleksi mobil klasik dari tumpukan rongsokan seperti saya ini, namanya orang gila,” derai tawa tersemat dalam ucapan Dr. Soepomo Prodjoharjono, MSocSc, Akt. yang akrab dipanggil Pompi ini. Beliau adalah perintis Komunitas Penggemar Mobil Klasik (KMPK) di Indonesia.


Sebelum beralih lebih jauh, ada baiknya kita luruskan dulu persepsi pengertian mobil klasik. Sebabnya, banyak orang mengira mobil klasik sama dengan mobil kuno. Menurut Pompi, mobil yang tergolong dengan kategori klasik adalah mobil yang bentuknya indah, tak habis dimakan zaman. Dari segi usianya, masih tergolong muda, sekitar 30 tahun ke belakang. Sedangkan mobil kuno adalah heritage, mobil yang sudah sangat tua dan jarang ditemui di jalan.


Sementara menurut HM Bambang Rus Effendi, Ketua Umum Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PMKI), mobil yang disebut klasik tidak dipengaruhi oleh usia, melainkan dari modelnya yang memiliki detil yang indah. Selain itu, terkadang jumlah produksinya yang terbatas, seperti Ferarri keluaran tahun 2000an, juga bisa disebut klasik. Sebaliknya, mobil yang dikategorikan kuno identik mobil yang usianya paling muda 40 tahun ke belakang.


A Priceless Art

Kegiatan mengumpulkan mobil klasik maupun antik merupakan seni yang tak ternilai bagi para kolektornya. Pasalnya, setiap mobil memiliki cerita tersendiri di balik bilik perjalanannya, baik berhubungan langsung dengan sang kolektor, ataupun dengan para tokoh yang berpengaruh. Hal itulah yang mempengaruhi keputusan orang untuk menambah koleksinya. Pompi yang kini menyimpan 22 unit mobil klasik, selalu memilih brand mobil yang memiliki kenangan dengan dirinya di masa muda. ’’Saya sewaktu remaja pertama kali belajar menyetir dengan mobil Corolla, jadi sampai sekarang pun saya senang mencari mobil itu. Spesifikasinya juga saya sudah hafal,’’ujarnya.


Lain dengan Bambang yang melihat histori mobil dari sisi yang berbeda. ’’Saya lihat dulu mobil dengan brand itu pernah dipakai oleh siapa dalam sejarah,’’ ujar pemilik mobil Pontiac, Dodge, dan Morris ini. ’’Morris Minor saya, mobil Mr. Bean ini, di tahun 60an adalah angkutan umum yang sangat populer di Indonesia. Mobilnya kuat dan irit bensin. Bahkan, sering saya jadikan kendaraan touring ke luar pulau,’’ lanjutnya. Contoh mobil lain yang ia kagumi historinya adalah Chevrolet Impala, mobil kepresidenan pada era Soekarno.



Muncul pendapat lain dari Frelon Adi Drijono, seorang praktisi di sebuah bank asing, ia menyukai mobil klasik eropa semenjak berkuliah di Australia tahun 1992. Alasannya, mobil eropa lebih dinamis, teknologinya terdepan, dan interiornya lebih stylish pada zamannya, dibandingan mobil Jepang dan Amerika. Tambahnya lagi, mobil eropa yang terkesan gagah lebih sesuai dikendarai di Indonesia yang bentuk jalanannya berliku-liku seperti di negara-negara Eropa sendiri.


Frelon pernah memiliki mobil Mercy Tiger, Volkswagen, Mercedes Mini, Jeep Hardtop, dan Peugeot 504. Buatnya, kenangan yang dibawa oleh brand mobil tertentu bisa membangkitkan kenangan dalam dirinya. Semisal mobil VW adalah kendaraan ayahnya saat dinas dulu. Saat ini, mobil impiannya yang belum kunjung dimiliki adalah Morris Mini dan Volkswagen Karmman Ghia.


Setelah sukses mendapatkan mobil klasik impian, masih banyak hal yang harus dilakukan oleh kolektor. Seni, seperti kata para seniman, sebuah kepuasan yang tak ternilai harganya, diamini oleh Bambang dan Pompi. Menurut mereka, sebuah kepuasan dan tantangan tersendiri untuk membangun atau memperbaiki kerusakan mobil klasik menjadi sempurna. Suatu waktu Pompi pernah membeli mobil Fiat 1100 di Purworejo. Secara fisik, bodi mobil tersebut masih mulus—begitu istilah untuk mendefinisikan fisik mobil yang bagus, tapi onderdilnya tidak lengkap. Solusinya, ia membeli mobil yang persis sama di Surabaya, lalu memindahkan onderdilnya ke mobil Fiat pertamanya. “Kalau sudah suka sama satu mobil, pikiran sudah tidak rasional lagi,”ujarnya.


Purist vs Retro, Collector VS Racer

Kolektor mobil klasik terbagi menjadi dua, yaitu purist; orang yang tidak suka menambahkan aksesoris yang memudarkan originalitas mobil klasiknya, dan gaya retro; penggemar mobil klasik dengan segala pernak-pernik tambahan untuk mendekorasi fisiknya. Kebetulan, Bambang, Pompi dan Frelon adalah tipe purist, karena tidak ingin kehilangan unsur originalitas suatu mobil klasik beserta kenangan dan histori di dalamnya.


Dari segi fungsi, prinsip kinerja mobil klasik mirip seperti tubuh manusia. Semakin tua usianya, semakin terbatas aktivitas fisiknya bila tidak dirawat dengan baik. Namun, kembali kepada pilihan, apakah hanya ingin menjadikan mobil klasik sebagai koleksi, dipakai sehari-hari, atau dimanfaatkan untuk ajang balapan.


Bagi Pompi, mobil-mobil klasik dimilikinya untuk diperbaiki jadi sempurna untuk menambah koleksi. Apabila ada yang berminat membeli, bisa dijual dengan tidak berorientasi pada profitnya. Bahkan ia seringkali membali mobil mobil klasik dengan harga tinggi tanpa berusaha menawar, kemudian diperbaiki dan dijual dengan harga terjangkau. Buatnya, cukup memandangi koleksi mobil klasik yang terparkir di halaman, bisa membuatnya berpuas hati, tanpa memikirkan nominal.


Sedangkan bagi Frelon, ia menjadikan kecintaannya dengan mobil klasik menjadi sekedar sebuah kesenangan, bukan hobi yang harus diprioritaskan. Buatnya, apabila sudah ‘kecanduan’ dengan mobil klasik, bisa-bisa hal penting, seperti keluarganya terabaikan. Di sisi lain, Bambang memaksimalkan manfaat mobil klasik untuk balapan, melalui Indonesian Race Festival, ajang balap mobil klasik, yang diselenggarakan oleh PPMKI di Sirkuit Sentul beberapa waktu lalu.


“Morris Minor saya berhasil menempuh jarak 4.7 km dalam kecepatan 2 menit 30 detik saja. Jadi kualitas mesin tidak akan mengganggu bila kita tahu cara merawatnya,” bebernya. “Ajang balapan ini cukup banyak peminatnya, bisa mencapai 48 peserta dari seluruh Indonesia. Indonesia adalah satu-satunya negara Asia yang mengadakan acara balap ini,” katanya kemudian.


High maintenance, high cost?

Biaya tinggi berbanding terbalik dengan intensitas perawatan. Berikut ini tips dari Pompi dalam merawat mobil klasik, guna meminimalisasi biaya yang dikeluarkan:

- Panaskan mobil setiap hari walaupun tidak dipakai.

- Hematlah bahan-bahan yang consumable seperti aki

- Parkir mobil di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung supaya kondisi cat tidak memudar

- Rutin mengelap atau mencuci mobil


Tips khusus untuk menjaga kenyamanan saat mengendarai mobil klasik dari Bambang Rus Effendi:

- Bila mobil bermasalah ketika berkendara, jangan serta merta menganggap masalahnya terletak pada mesin. Pastikan sirkulasi air di dalamnya lancar, karena itu adalah hal yang vital.

- Sempurnakan shock breaker dan remnya

- Tambahkan perangkan AC, karena kondisi cuaca sekarang lebih panas daripada zaman dulu ketika mobil klasik atau kuno diciptakan tanpa AC

- Jangan takut dengan biaya perawatan rutin yang selalu harus keluar. Biaya tinggi biasanya hanya sekali diperlukan saat kita memperbaiki keadaan mobil setelah dibeli. Seperti Morris miliknya yang dibeli seharga dua juta, membutuhkan biaya sebesar 25 juta Rupiah di awal perbaikan.


Facts about classic car around the world

- Mobil Isuzu Piazza hanya masuk ke negara Amerika dan Australia. Di Amerika, mobil ini dikenal sebagai Isuzu Impulse, dan di Australia disebut Holden Piazza.


- Batmobile, mobil yang dipakai dalam serial TV Batman sekitar tahun 1966, adalah mobil Lincoln Futura yang didesain oleh George Barris.


- Industri mobil pertama di Israel dibangun oleh Autocars Co. Ltd dan merk mobilnya adalah The Sabra di tahun 1950an. The Sabra yang artinya “terlahir di Israel” dengan logo pohon kaktus ini menggunakan fiberglass sebagai bahan pembuatan mobilnya.


- Mobil Jepang yang pertama kali laku di Inggris adalah Daihatsu.


- Dodge Brothers Company, industri mobil Amerika yang namanya melambung di sekitar 60 negara di dunia semenjak tahun 1900an, didirikan oleh John Dodge dan Horace bersaudara.


- Malcolm Bricklin adalah orang yang memperkenalkan mobil Subaru ke Amerika. Di tahun 1970, ia membawa mobil sport Bricklin SV-1 ke Amerika yang diproduksi di Kanada.


- Mercury Cougar adalah mobil keluaran Ford yang sangat bergengsi di tahun 1967 di Amerika. Mobil ini adalah wajah baru dari tampilan Ford Mustang, dengan model yang lebih elegan. Tipe GT 390 adalah Cougar yang paling powerful pada zamannya.



Penulis: Faye Yolody
Photo: Adam Dwi Putra & Dok. MI
(Dimuat di majalah First Priority/Edisi 10)


***

Life with Projectors




LIFE WITH PROJECTORS
Like a kite runner, Janto Susanto had to feel the wind before he could build his momentum.
But once he did, he soared higher into the sky and ultimately conquered it. For him,
doing business his way is a lot like mastering the art of running a kite.

Benda kecil bernama mesin proyektor sudah diakui kehebatannya untuk memudahkan aktivitas perusahaan di berbagai belahan dunia. Adalah Janto Susanto, Direktur Utama PT Triyaso Telekomindo, perusahaan distributor yang memperkenalkan mesin proyektor Infocus ke Indonesia. Dengan penampilannya yang sederhana dan cara bicaranya yang ramah, ia bercerita soal perjalanan bisnis ini dan prinsip hidupnya kepada FirstPriority.


Study, learn, and practice

Terlahir dari pasangan pedagang ikan asin di sebuah kota kecil Kuningan di tahun 1960, Janto Susanto adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Kegiatan sehari-harinya sedari remaja membantu orangtuanya berjualan di pasar, dan dari sanalah ia belajar bisnis secara otodidak. Ketika lulus SMA dan hendak masuk kuliah, ia diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB), lalu ia memutuskan mengambil jurusan yang populer pada masa itu: teknik telekomunikasi.


Seusai kuliah, ia bekerja selama empat tahun di sebuah perusahaan telekomunikasi. Ketika itu jabatannya sales, yang pada akhirnya ia dipromosikan menjadi sales manager yang menjual produk alat ukur. Ia belajar cara berjualan dan sistem distribusi. Lalu, jiwanya serasa terpanggil untuk membangun bisnis sendiri, dan ia tak menunda waktu lagi dan mengundurkan diri dari perusahaan tersebut di usia 31 tahun. Ketika itu Janto dianggap ‘nekad’ oleh banyak orang, karena di saat pernikahannya akan berlangsung dua bulan lagi, ia justru melepaskan pekerjaannya.

Buatnya, usia untuk memulai bisnis sebaiknya tidak terlalu tua, karena ketakutan dalam hidup akan semakin besar seiring usia bertambah. Merasa cukup mengenyam teori yang selama kuliah dan pengalamannya bekerja sebagai sales baginya sudah cukup. Selanjutnya, ia harus melakukan praktek bisnis di bidang general supplier melalui PT yang dirintisnya bersama keempat kakaknya.


Trust is key

Bermodalkan uang 50 juta Rupiah, yang merupakan hasil urunan bersama kakak-kakaknya, Janto mulai merangkak perlahan-lahan. Pada masa transisi itu, ia melakoni hari dengan bertanya ke teman-teman yang bekerja di perusahaan besar dan mengajukan diri sebagai distributor barang. Sempat ia dibantu temannya menjadi distributor baterai Handy Talky di perusahaan minyak.


Dua tahun kemudian, keadaan berubah. Adiknya yang saat itu bersekolah di Amerika mencoba mengajukan proposal untuk menjadi distributor mesin proyektor Infocus di Indonesia. Proposal disetujui, lantas Janto dipercaya menjadi distributor sejak saat itu.


Ditanya rahasia sukses apa yang ia terapkan dalam menjalani bisnis, Janto tertawa renyah. “Caranya tidak canggih, resepnya hanya kepercayaan dan kerja keras. Kepercayaan itu timbal balik, karena komitmen penuh sifat kerja keras yang saya miliki, maka kakak dan teman-teman saya tak segan membantu,” ungkapnya.


Demikian juga terhadap customer, Janto menjalin hubungan berdasar kepercayaan dan menjamin kenyamanannya dengan fasilitas yang diberikan. Salah satu bentuknya adalah bila proyektor customer rusak, customer akan dipinjamkan proyektor lain sementara perbaikan sedang dilakukan.


Saved from a crisis

Menjadi distributor tunggal bukan berarti tak mengalami masalah. Saat krisis tahun 1998 lalu, daya beli masyarakat menurun drastis, dan itu berpengaruh pada tingkat penjualan proyektor. Hanya saja, Janto pintar melihat peluang, di mana saat itu internet semakin dibutuhkan untuk memperlancar komunikasi. PT Triyaso Telekomindo lantas mendistribusikan produk modem agar terus mendapat pemasukkan. Menyusul distribusi beberapa brand teknologi alat komunikasi lainnya.


Namun, dari sekian banyak merek, hanya Infocuslah yang paling kuat ‘chemistry’nya dengan Janto hingga kini. Terbukti, sejak tahun 1993 sampai sekarang ia dipercaya sebagai distributor tunggal brand tersebut.


Business Recipe


Di samping itu, Janto selalu berusaha untuk menyejahterakan ke-50 karyawannya. Di balik tubuh setiap karyawan tersebut, ada keluarga yang harus diberi makan. Jamsostek dan pemberian gaji yang layak selalu menjadi perhatiannya. Sedangkan prinsip yang ia terapkan ketika berhubungan dengan para karyawannya adalah prinsip kekeluargaan. “Office boy pertama saya masih bekerja sama saya sampai sekarang. Sudah 20 tahun loh.. Mungkin dia feels like home di sini,” katanya.


Tanggung jawab terhadap kehidupan karyawannya juga menjadi salah satu motivasi ia terus bertahan. Menurutnya, seorang pengusaha harus memiliki tanggung jawab itu, karena pada intinya di balik setiap perusahaan adalah manusia.


Lantas, bagaimana pandangannya soal para calon perintis usaha baru di Tanah Air?

Keberanian dan fokus yang kuat. Berani untuk memutuskan dan meninggalkan pekerjaan, juga mendalami pengetahuan di bidangnya menjadi tips darinya. ’’Kesempatan untuk berbisnis di Indonesia sudah lebih terbuka, walaupun saingan banyak. Jangan cuma orang asing yang bisa berbisnis di sini, tapi orang lokalnya juga harus lebih banyak,’’ ungkapnya.


Spiritual living

Di balik perjuangan dan perjalanan bisnisnya, Janto merasa ia termasuk beruntung karena tidak pernah mengalami kegagalan yang terpuruk. Jalan hidupnya seperti mengalir begitu saja ke arah yang lebih baik, taraf hidupnya meningkat, juga selalu bertemu orang-orang yang membantu.



Karena itu, untuk menyesuaikan kesuksesan yang digenggamnya, inilah saatnya untuk aktif kegiatan keagamaan dan berbagi dengan sesama. Namun ada sebuah mukzizat yang ia harapkan selama bertahun-tahun pernikahannya tapi tak kunjung muncul, yaitu keinginannya memiliki anak. Tapi, tidak memiliki anak, tak menjadi halangan baginya untuk menjalani dengan perasaan senang dan hidup sesuai ajaran agamanya.


“Saya hampir tidak pernah merasa stress. Jadi ya menjalani hidup seperti ini saja, senang tanpa harus merasa terbebani,” akunya sambil tersenyum.


Penulis: Faye Yolody

(Dimuat di majalah First Priority/Edisi 9)

***

I'm a Priority, wasn't I?

Actually I made time to post my works here. Besides journalist, I'm also a fashion & beauty stylist of magazines I handle in Media Indonesia. FIRST PRIORITY is magazine for Priority Customer of ANZ. :)



































Stylist: Faye Yolody & Arya Wardhana
Make up artist: Kiki Lutan
Photographer: Permana PJ.

Special thanks to: Sebastian Gunawan, Mask & Spencer, Jeffry Tan, Heliopolis, and Mitra Adi Perkasa for the wardrobes :)

:*

The World through Digital Media








The World through Digital Media


Digital media is changing the world faster than history can record. But it also helps change the way we communicate and acquire information in a timely manner.

Beberapa puluh tahun silam, surat kabar dan radio sangat didewa-dewakan lantaran dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi untuk konsumsi generasi publik saat itu. Lambat laun, seiring dengan semakin kompleksnya peristiwa-peristiwa yang terjadi di era selanjutnya, masyarakat semakin menjadi haus akan kecepatan penyampaian informasi. Media massa dengan teknologi analog yang disebut televisi mulai menguasai negeri.


Semua itu masih tak cukup untuk memenuhi kebutuhan pada era informasi sekarang ini. Tak terelakkan lagi, semenjak beberapa tahun terakhir kehidupan kita ‘disusupi’ oleh kehadiran media digital. Lantas, apa sebenarnya media digital, dan bagaimana masa depannya di dunia?


A problem solver

Mendapati kata ‘digital’ dan ‘media’, digital media adalah wadah penyampai pesan yang bersifat komputerisasi, seperti yang diutarakan oleh Donny Bu, dosen pengajar mata kuliah Digital Media di STIKOM London School of Public Relations. Dengan adanya digital media, hidup kita akan lebih dimudahkan. Kita tak lagi perlu lagi hanya tergantung pada pita kaset saat mendengarkan musik, melakukan fotokopi untuk memperbanyak data, atau mengirim surat pembaca ke surat kabar saat ingin berbagi opini. Semua bisa dilakukan dengan cepat melalui internet, yang merupakan digital media yang paling pesat perkembangannya.


Internet memunculkan berbagai macam hal baru, salah satunya yang telah dibahas di atas, yaitu jejaring sosial. Lainnya, para produsen berita di media konvensional seperti surat kabar, radio dan media analog televisi berbondong-bondong melakukan konvergensi ke media online internet. Hal itu terjadi hampir di seluruh Negara maju dan berkembang tak terkecuali Indonesia. Bahkan di Amerika Serikat pada tahun 2010 menutup beberapa perusahaan media konvensional karena karyawannya dialihkan ke media online.


Menurut Donny, kebutuhan masyarakat untuk mengakses informasi secara cepat yang menuntut kemajuan digital media. Sebagai contoh, kasus strategi marketing pengiriman 100 peti mati di Jakarta yang terjadi belum lama ini. Di hari kasus itu terjadi, berbagai media online sudah memberitakannya, lantas membuat traffic akses internet kian padat di hari itu.


Faring against conventional media

Hukum rimba yang berbunyi ‘siapa kuat, dialah yang menang’ memang berlaku dalam berbagai bentuk persaingan. Tapi kekhawatiran bahwa media konvensional seperti surat kabar, radio, dan televisi akan lenyap termakan oleh digital media diprediksi tak akan terjadi. Pasalnya, setiap media memiliki kelebihannya masing-masing dan tak tergantikan oleh digital media. Seperti surat kabar, media yang bisa mengulas berita dari sisi lain dan lebih mendalam, bukan sekedar berita up-to-the-minute atau hard news yang banyak disiarkan di media online.

Pendapat serupa diutarakan oleh Enda Nasution, seorang internet marketing analyst dan pendiri situs salingsilang.com. Katanya, seiring teknologi semakin berkembang, publik tak lagi mempermasalahkan informasi datang dari mana, tapi yang penting adalah isinya harus relevan dengan apa yang dibutuhkan. “Sampai saat ini, televisi masih menjadi media yang paling persuasif karena ada motion, dan bila sedang menyetir mobil, media yang paling pas, ya radio,” katanya.


Bagaimanapun, media konvensional tetap memiliki resiko besar bila menghadapi digital media. Berdasarkan hasil riset dari PricewaterhouseCoopers LLP and Wilkofsky Gruen & Associates, seiring berkembangnya teknologi digital, media-media baru akan berkembang, sementara media konvensional yang hanya berdiam diri dipastikan tak akan berkembang atau mengalami penurunan pasar.


Salah satu grup media massa terkemuka di Indonesia, MRA Media Group, pun melakukan konvergensi secara cepat. Majalah-majalah fashion dan lifestyle yang dibawah naungannya seperi Cosmopolitan, Bazaar, Spice, Esquire dan lainnya sekarang sudah bisa dinikmati dalam tablet. Hal itu sesuai visi MRA yang diungkapkan oleh Indriati Wirjanto sekalu Presiden Direktur MRA grup,’’Agar majalah-majalah kami mudah diakses melalui berbagai media elektronik. Karena itu kami bekerjasama dengan berbagai berbagai platform untuk menampilkan majalah dalam format digital. Isinya tentu berbeda dengan versi cetaknya dengan feature-feature lebih atraktif.“ Lantas soal membangun imej perusahaan, MRA menilai terobosan konvergensi ini membuahkan nilai positif, yaitu perusahaan ini diakui mampu memberikan wawasan dan informasi seputar lifestyle dan fashion yang bisa diakses anywhere, anytime, serta anyplace.


Dari segi kenyamanan pembaca, pemanfaatan digital media itu menemukan titik yang sama. Aynie (30), seorang pengajar guru bahasa Mandarin yang gemar mengakses berita melalui tablet. “Baca berita di tablet membuat saya dikenal teman-teman sebagai orang yang update soal berita, karena saya tahu lebih cepat daripada mereka. Selain itu, lebih nyaman baca berita di tablet karena praktis, tak perlu beli surat kabar atau majalah,” ungkapnya.


Publisher media cetak lainnya, Media Indonesia, juga beralih digital ke Media Indonesia for iPad semenjak bulan Januari lalu. Mengusung tujuan menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia digital yang masif, Media Indonesia tetap memberikan informasi dan wawasan untuk para pembaca melalui media ramah lingkungan yang paperless. Dengan publikasi majalah online ini sebulan sekali dengan format menarik, diharapkan digital media terus menjadi gaya hidup yang berkelanjutan sejalan kampanye menjaga hutan dunia melalui penghematan kertas juga terlaksana dengan benar.


Melihat fenomena tersebut, sangat wajar bila konvergensi media cetak akan menjadi trend yang semakin mendunia di tahun ini. Bukan sekedar trend baru yang cepat surut, bila dilihat dari perjalanannya yang selalu menanjak semenjak tahun 2008 silam. Siapkah Anda menyambut ‘guyuran’ digital media berikutnya?


More than just a consumer

Idealnya, suatu negara ditinggali oleh masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge- based society) untuk memajukan bangsanya. Sayang, seringkali orang beralasan karena merasa tidak pintar, ia tidak bisa turut serta membangun negara. Padahal, menurut Donny, dengan modal keinginan untuk berbagi informasi melalui blog atau situs tertentu, kita sudah menjadi produsen berita dan melakukan sesuatu untuk orang lain.


“Media tak bisa memegang idealisme 100% untuk hanya menyuguhkan berita yang dibutuhkan masyarakat, tapi juga harus memberikan apa yang diinginkan masyarakat. Dari sana institusi media mendapat profit. Makanya, kita sebaiknya bisa berbagi pengalaman lewat digital media, supaya orang-orang bisa mendapat hal yang baru dari sisi humanity, bukan institusi,” paparnya.


Perfect timing for business

Layak untuk diketahui oleh orang-orang yang berjiwa pengusaha, bahwa era ini adalah saat yang tepat untuk merintis usaha atau berinvestasi melalui digital media. Menurut Enda, digital media merupakan wadah penampung ide-ide bisnis yang brilian tanpa menuntut modal awal yang besar. Bentuk promosinya bisa dengan memanfaatkan jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook. Tak heran, 41% dari pemilik usaha di dunia meyakini twitter mampu menambah value untuk perusahaannya.


Idenya apa, perlu dikonsepkan sesuai kebutuhan publik, salah satu sebagai contoh situs mengenai seluk-beluk berbagai daerah di Indonesia. Kata Enda, “hampir semua berita mengulas soal Jakarta, padahal banyak sisi dari Indonesia yang bisa dibahas. Bisa juga dijadikan bisnis yang bisa membuat investor tertarik.”


Pendapat tersebut sejalan dengan apa yang diyakini oleh Andy Sjarif, CEO dari SITTI (www.sitti.co.id), sebuah perusahaan bisnis advertising online yang bersifat kontekstual, dalam arti iklan ’dijodohkan’ kepada consumer yang membutuhkan. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya dan daya ekonomi yang kuat, hanya saja ide-ide dari manusianya harus lebih dimunculkan dulu. ’’Everything comes up with an idea, termasuk membangun bisnis dalam dunia digital, ujarnya.


Konsep dari SITTI adalah semacam search engine seperti google yang mampu menangkap ratusan ribu kata berbahasa Indonesia yang diketik oleh pengguna situs, lalu keyword tersebut akan dihubungkan ke iklan para klien. Semisal iklan seorang pengusaha kue yang berkampanye lewat SITTI, maka iklan tersebut akan terbaca oleh orang-orang yang mengakses platform, situs, atau blog yang berhubungan dengan kue dan kuliner.


Hingga saat ini, walaupun usia SITTI belum menginjak satu tahun, tapi platform yang bekerjasama dengan SITTI sudah mencapai sekitar 9.000, termasuk kompas.com, detik.com, juga blog dan portal berita lainnya. Keuntungan bagi klien SITTI adalah sistem pembayarannya disesuaikan dengan jumlah berapa kali iklannya di-klik oleh pengunjung platform.


SITTI yang namanya terinspirasi dari nama Sitti Nurbaya, cerita yang ‘menggebrak’ eranya dalam hal linguistik zaman dahulu kala ini juga menggandeng Rene Suhardono dalam penciptaan strategi creative perusahaan. Menurutnya, hal apapun memiliki pemikiran dasar yang sama, yaitu give something first then you’ll receive it back. “Lihat saja apa yang dilakukan Google. Kita tak harus bayar untuk mengakses sebanyak-banyaknya informasi dari sana, tapi tahukah Google pada akhirnya meraih profit sekitar 230 triliun rupiah dari advertising.


‘’Konsep bisnis apapun berdasar pada demand and supply. Saat ini Indonesia menjadi negara ketiga yang pertumbuhan populasi pengguna internet tercepat di se-Asia Pasifik. Seharusnya, kita sudah menyesuaikan dan turut terjun dengan memulai bisnis dalam ini,”papar Andy.

Untuk ke depannya, menurut Andy, visi yang ingin dicapai oleh SITTI adalah memajukan industri Usaha Kecil Menengah (UKM) di seluruh Indonesia. Dengan strategi komunikasi yang sedang digarap saat ini dan dibantu oleh kecepatan perkembangan digital media, ia optimis bisa mencapai tujuan itu. Misi yang akan dilakukan adalah membuat para ‘pemain’ UKM bisa mengembangkan bisnis secara digital, walaupun banyak dari mereka yang masih gagap teknologi dan kondisi keuangannya lemah. “Bila UKM saja bisa dimajukan, logikanya para ‘pemain’ besar yang sudah jauh lebih mapan kondisi ekonominya akan lebih mudah dan berkembang berinvestasi dalam dunia digital,” katanya.


Di sisi lain, hal yang masih perlu terus ditingkatkan adalah pemerataan penggunaan internet pada usia di atas 35 tahun. Pasalnya, sampai saat ini 90% dari pengguna internet di Indonesia adalah orang di bawah 35 tahun, di mana presentase keseluruhan pengguna internet baru mencapai 19% dari total populasi di Indonesia. Jadi, walau usia sudah melewati usia produktif, bukan berarti ide-ide bisnis yang baru tidak bisa disalurkan secara digital, bukan?


Changing the world

Revolusi digital media bisa menyentuh berbagai aspek kehidupan dan berpengaruh pada dunia secara global. Visi besar ini apabila disepakati serempak oleh setiap negara, sampai satuan terkecil yaitu individu di seluruh dunia, bukanlah sekedar mimpi. Dengan membekali diri dengan wawasan informasi, kita bisa mewariskan pengetahuan baru pada orang lain yang membutuhkan. Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat contohnya, bisa memberikan pelatihan bagaimana menerapkan teknologi yang ada untuk para petani. Melalui pengetahuan tersebut, masyarakat bisa menjadi cerdas sesuai porsinya.


Perlahan-lahan, nasib bangsapun berubah. Bagi Rene, bila kita peduli untuk perbaikan kualitas hidup bangsa Tanah Air kita ini, kita harus menyediakan wadah yang bisa diakses banyak orang. Semisal SITTI yang sedang menggarap strategi lanjutan dan memperluas eksistensinya sampai ke semua kelas sosial masyarakat.


Luasnya lagi, menurut analisa Donny dan Enda, bila sebagian besar masyarakat sudah melek informasi dan teknologi, maka hubungan antar pemerintah dan masyarakat bisa membaik. Infrastruktur komunikasi meningkat, lalu pemerintah bisa berubah menjadi fasilitator (bukan sekedar regulator) bagi masyarakat yang bisa mengatur diri sendiri. Perlahan-lahan, korupsi bisa berkurang, HAM tercapai, pendidikan merata, dan tingkat ekonomi global meningkat. Pada akhirnya tercapailah tujuan suatu negara untuk melahirkan knowledge-based society.


Perjalanan digital media dari masa ke masa

1771: Publikasi surat kabar

1922: Radio komersial mulai menyiarkan berita

1941: Penyebaran informasi melalui televisi

1969: Awal mula penemuan internet

1970: Penciptaan komputer personal

1972: Pengenalan teknologi TV kabel

1979: Sistem berdiskusi melalui internet diciptakan

1980: Lahirnya Miscrosoft

1982: Penemuan Compact Disc (CD)

1990: Program World Wide Web (www) dikenalkan pada khalayak

1993: Penemuan Digital Versatile Disc (DVD)

1997: Dimulainya budaya blogging

2001: Lahirnya Wikipedia sebagai sumber informasi

2001: Penyebaran informasi melalui radio satelit

2002: Friendster muncul sebagai jejaring sosial pertama

2004: Facebook diperkenalkan oleh Mark Zuckerberg

2005: Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim menciptakan Youtube

2006: Twitter lahir melengkapi kehadiran jejaring sosial

2008: Penemuan Online TV


Penulis: Faye Yolody

(Dimuat di majalah First Priority/Today’s business/edisi 9)

Thursday, February 2, 2012

TUIF

Thanks Universe it's Friday. :)




Saya mengakui, kita sangat membutuhkan waktu untuk sendirian--di rumah atau di gua, untuk menenangkan 'ombak' yang terombang-ambing di dalam diri. Kalau kita tidak pernah menyisakan waktu untuk itu, lama-lama ombaknya mengikis diri kita seperti batu besar di pinggir pantai. Lama-lama terjadi erosi, lama-lama terjadi depresi.Apalagi, hidup di perkotaan dengan tingkat aktivitas yang tinggi tidak membiarkan kita untuk melamunkan hal-hal yang terlupakan, barang dua menit saja.Apalagi, bila kita mengalami 'shit happens' di saat kita sedang berada di puncak kesenangan karena berhasil meraih sesuatu. Semua terasa jatuh begitu saja. Serasa kita adalah sampah paling busuk di dunia ini. Seperti apa yang sedang saya alami saat ini, dan beberapa kali di masa sebelum ini.

Di titik itulah kita membutuhkan waktu untuk menjauh. Di titik itulah kita membutuhkan teman untuk berbagi. Saya beruntung, punya banyak orang yang mau mendengarkan saya. Mereka dengan tulus membuat saya untuk merelakan hal buruk terjadi dan belajar dari sana sehingga menambah pendewasaan saya. Mereka mengingatkan bahwa apapun yang menjadi jodoh saya, akan menjadi jalan saya.

Beruntungnya, di saat seperti ini, kakak, ibu, teman-teman dan pacar saya mengatakan hal yang sama. :)

Saya tidak ingin membeberkan shit apa yang sedang terjadi, tapi saya hanya ingin share bahwa, ketika kita dengan tulus menerima kenyataan yang terjadi, dan mendapati bahwa kita masih punya segala yang kita punya, seperti usia muda, kemampuan, ambisi, keinginan, tujuan tinggi, orang-orang yang menyanyangi, kita tidak rugi sedikit pun telah mengalami hal bodoh yang kita sebut shit itu. Hasilnya, lega tak karuan di dalam diri.

Justru, ketika kita merelakan, malah hal baik akan terjadi dalam diri.

Satu hal lagi, saya bukan orang yang percaya shio baik atau buruk di tahun Naga ini. Buat saya, tidak ada hubungan antara shio dan peruntungan kita. Peruntungan bukanlah hal gaib yang didapat secara tiba-tiba, tapi sesuatu yang kita bentuk dari keseharian kita. :)

Bila depresi menerjang, datanglah ke orang-orang yang kita percayai. Berikan waktu untuk diri sendiri selama sehari (mengambil cuti kerja sangat sah untuk hal ini), nikmati dan rasakan bahwa we've got talent. So there's nothing to worry about.

Don't forget to LAUGH! Happy Friday, dears! :)

Xoxo,
fy


Tuesday, January 10, 2012

Cerita Sahabat

My Short Story Anthology has been published in Gramedia in Dec 2011 :) thanks to Alberthiene Endah, our lovely editor, and Gramedia our publisher :)

What';s up on twitter:

Alberthiene Endah
RT : cerpen bagus di by & friends, 'Djodoh, Wo Bu Ai Ni' dan 'Tentang Hujan' Tjhai Edwin

Cha C
Hai.. *lambai2* Tulisan bagus, aku suka.. Thank u for writing that beautiful story :D Hehehe.. Jodoh, Wo Bu Ai Ni

lutfiaputribastian
Siang k gramedia, baru aj megang buku nelpon udh deket, liat antrian kasir rame jd disimpen lagi bukunya :(

lutfiaputribastian
Nyari makan ke gale mampir TogaMas disana, search di komputernya masih order.

Krizia Soegianto
Beli buku ini krn follow bbrp penulisnya di twitter dan suka sama tulisannya.. :))

Suka sama cerita2nya dan tentunya mbak di :D

Krizia Soegianto
Ngebut baca dalam semalam..

endah septianingsih
buku yang tadi kamu bawa bukan? Kok bisa dapet bukunya? Endah nyari udh pada kosong :'(

Mpur Chan
Seorang ibu slalu punya cara untuk mengendalikan anak2nya, kalau tdk dengan kasih sayang ya dengan kemurkaannya.

Vivi Anggriani Naue
kka folbek donk, kalo boleh ;) . Nice to know you. Tulisannya dibingkai manis


Shynta Apriliadewi
jadi tergiur beli dehh.. Kapan yaaaa kapan-kapan.. :'|

Uda Anest / पौत्र एड
Big thanks for the Dunkin Chocolate Ice, divortiare dan nemenin beli :) next time will be my turn.

niken paramita w
hari ini harus dapet buku harus dapet ^^

rizaldi amin
Nunggu ngantuk sambil ngabisin kali aja tambah galau *eh

Faye Yolody
@ :) thanks yaaa Rin.. " congrats ya cerita sahabat-nya udh published ;) cc :













Sunday, January 1, 2012

Happy New Year!! :)

Kita berhasil melewati setahun demi setahun, sampai ada hari ini.
Saya bisa menulis ini, dan kamu bisa membaca ini. Artinya, kita berhasil masuk ke tahun 2012, walau katanya tahun kiamat.

Jadi, jangan sia-siakan 365 hari berikutnya, karena kita tak tahu kapan hari terakhir kita datang, atau orang-orang di sekeliling kita.

We never know our faith of lifetime, please love everyone as much as we can. Don't let yourself regret later.

Seperti kematian seorang desainer muda Tanah Air pada tanggal 1 Januari kemarin. Mirisnya, ia meninggal dengan cara yang mengenaskan. Dia punya segalanya. Pamor, kekayaan, ketenaran. Semua ia tinggalkan begitu saja.

Saya teringat kata-kata mbak Aiko Senosoenoto di pertemuan Fenomena di Megamendung, hari terakhir tahun 2011.

"Yang seharusnya ditakuti bukan mati miskin, tapi mati menderita. Kalau kita memupuk rezeki jiwa selama hidup, tak perlu takut jatuh miskin. Tapi supaya tidak mati dengan menderita, ubahlah sifat buruk untuk memperbaiki karma kita."

So, Happy New Year, everyone!
Semoga tahun 2012 ini segalanya menuju ke arah yang lebih baik dan tekad-tekad yang kita buat bisa dijalani satu-persatu. :)