Yolody's Room

Tuesday, June 30, 2009

sebulan pertama di kantor baru

Huaaa aku udah sebulan di kantor baruuuuu.. hehhehehe selama sebulan ini,hari inilah aku baru sempet (dan baru berani) buka blog. Bukan apa-apa, dari minggu pertama aja aku udah stress berat, ditambah kerjaan yang menumpuk, jadi kayaknya mau cur-col juga hati ndak enak gitu loh.. (sfx: suara teriak di depan kuping, WOI..! HAYO KERJA!!, visual: angin mengibas rambut dan di mukaku banyak cipratan ludah).

Minggu ini agak santai, soalnya aku baru masuk kerja ini harus langsung bikin company profile, persiapkan launching gedung baru, siapin goodybag untuk wartawan dan artis dan lain sebagainya. Saking aku tegangnya, sampai sempat muncul celetukan-celetukan nggak panting tapi menohok, misalnya: "kok Faye jarang keluar kantor sih?", "kok dia PR tapi jarang senyum?", "kok dia sombong sih?" hm... emang sempet terganggu banget sih aku sama kabar itu, tapi.. coba aja mereka ke ruanganku lihat apa yang aku kerjain depan komputer. Kalau bisa, boleh kok intip isi kepalaku, lihat aku lagi mikirin kerjaan setengah mati. Lagian, (bukan membela diri loh), aku emang nggak bisa terlalu berheboh2 di tengah keramaian. Kalo mereka ngobrol sama aku secara personal, baru mereka boleh menilai aku. Mereka nggak tau kan aku makan aja sampai lupa, bahkan kalu inget, bisa mengunyah sambil ngetik, menelan sambil menulis? Tertawa sambil berpikir? bekerja dengan mata berkaca-kaca?

Sekarang aku punya teman-teman baru di ruangan kantor.:)walaupun beda dan mereka kadang asik sendiri seakan aku nggak ada, tapi aku pengen berteman dekat sama mereka, pasti kerjanya juga jadi makin seru. hehe.. :)

Terkadang, ada hal-hal yang nggak perlu dipikirkan, karena itu cuma bikin kita nggak fokus apa yang lagi kita kerjakan. Yang penting, apa aja yang baik di depan mata, hajarr blehh.. :)

Tuesday, May 26, 2009

Jumping into the chellenge zone!

Sekarang H-5 gue bekerja di kantor baru, BloopEndorse. Memang ini dunia baru bagi gue, di mana gue nggak ketemu anak-anak seperti di Kumon, nggak ketemu yang namanya skenario film di layar komputer gue, nggak ngajarin bahasa Inggris lagi.. Belum kebayang sih keadaannya nanti, tapi yang pasti gue akan membuat event-event keren dengan beragai artis yang sudah terkenal, ataupun membuat artis yang tidak tenar jadi tenar.

Hari Jumat lalu, gue bilang ke salah satu murid gue, Andien. Pas gue bilang gue berenti ngajar, mulutnya dimonyongkan, dan gue tau kita saling kehilangan. Dia bilang, "kok keluar?kalo gitu kenapa kerja di sini? cuma numpang ya?" Gila, kata-kata itu nusuk banget, tapi mungkin itu ekspresi polos yang keluar dari mulut anak kelas 1 SD untuk mengungkapkan kekecewaannya.

Hari Senin lalu,gue mengumumkan hal yang sama ke semua anak murid gue. Dan melihat mereka tiba-tiba manis banget, sekejap hati gue mengusik, kalau gue belum siap ninggalin mereka. Tiba-tiba, ada anak yang nempel teru ke gue dengan muka sedih. Ada anak kembar yang melihat gue dan berlari-lari dengan riang. Ada anak yang bertanya lagi apa gue benar-benar mau keluar. Selain itu, bos dan partner ngajar gue masih berharap gue berubah pikiran di saat-saat terakhir.

Dalam Satu tahun sebulan ke belakang, dunia gue ya anak-anak. Dengan modal senang, telaten dan sayang, gue bisa menghasilkan uang sendiri. Dengan modal cinta, gue bisa membahagiakan diri gue dan juga murid-murid gue, walaupun gue tau kalau orang itu nggak bisa membahagiakan setiap orang di dunia ini.

Raja, Kirei, Adilla, Retno, Dinda, Jelita, Asa, Shindi, Farshah, Nissa, Amira, Raihan, Daffa, Muthia, Hayya, Alfia, Tarra, Syahdam, Willa, Devina&aurel, Andien, Fahem, Reyza, Rayhan, Pandu, Ata, Lani, Rara, Arya dan 30 anak yang lain.

Gue merasa dengan ngajar itu ya gue berada di dalam comfort zone gue. Dengan cuma mengajar mereka, walaupun kadang ada juga kesulitannya, gue dapat uang. Di sana, waktu gue juga fleksibel. Bisa aja ijin selama yang gue mau untuk urusan skripsi gue. Enak banget lah pokoknya. Tapi, gue merasa ini waktunya untuk gue keluar dari zona itu, dan melangkah ke zona yang lebih besar. yang lebih menantang. Yang benar-benar beda. Di mana gue nggak bisa asal ijin. tekanan banyak. Jam kerja fullweek.

Memang, gue seringkali merasa, can I do this?

If I can't, what next should I do?

Tapi di balik semua keraguan itu, yang gue yakin adalah gue harus tetap melangkah. Maju, apapun yang terjadi di depan. Kalau mau menjadi orang yang berbeda, ya harus seperti ini.
Hai my blog, I miss you sooo much! Every time I remembered you, it always hurt me because I had no time to visit you! But you are really my best friend, with your white space, I can't bear to tell you everything inside my mind. hohoho, so... Let's get on it!

Wednesday, April 22, 2009

Antrian demi sepatu karet CROCKS


Can't wait to pour my blog a few of words..

Hari Rabu adalah hari santai untuk saya, di mana saya libur ngajar dan waktu saya untuk mengurus persiapan skripsi dan sidang. Pagi ini, di ruang makan saya membaca Kompas sambil ditemani sepiring nasi dan kedua anjing saya. Dalam salah satu artikel Kompas diberitakan bahwa sendal Crocks lagi diskon gila-gilaan sampai 70 persen di Senayan City. Jadilah detik itu pula di dalam benak saya terancang jadwal padat hari untuk hari ini.

Girang hati saya membayangkan malam ini saya membawa pulang sepasang rubber shoes hitam Crocks seharga kira-kira 200 ribuan. Wah kapan lagi, pikir saya dalam hati.
Jadilah saya melaksanakan rencana saya hari itu dengan tepat waktu. Habis ketemu dosen untuk minta tanda tangan, saya makan di kampus, dengan niat biar nanti saya ada tenaga menyerbu dan berebutan sepatu. Dengan kaki pegal saya pergi naik busway dari halte karet dan turun di Bundaran Senayan, di mana saya harus berjalan kaki lumayan jauh untuk sampai di Senayan City.

Ok, saya sudah sampai di seberang Senayan City, dan dengan dua kali menyebrang jalan, saya akan masuk. Ketika hendak menyeberang, sekelibat saya entah di mana melihat tulisan promosi Crocks tersebut. Oh, untung kesadaran saya tinggi untuk segera kembali memperhatikan jalan, kalau nggak dijamin saya sudah dikecup mobil!

Akhirnya saya masuk mall megah ini dengan keringat menempel di baju hijau saya. Oh sejuknya udara, saya berguman. Saya meluncur ke arah lift untuk naik ke lantai 8 di mana crocks dijual. Di sebelah saya ada beberapa orang dengan tujuan yang pasti dan yakin sama dengan saya, berburu sepatu karet. Ting! lift terbuka.

Kaget bukan main, di depan saya terlihat antrian yang sangat panjang, dan sekitar 1000 orang mengantri dengan semangat. Ada yang sambil makan eskrim, nelpon, ngobrol.. Wah ada apa ini? Jangan-jangan.. Akh saya langsung menghibur hati. Paling juga antri dokter gigi, pikir saya. Tapi masa sih segitu banyak orang yang sakit gigi? Lalu saya beranikan dir iuntuk bertanya pada satpam yang memegang HT dan mengatur barisan.
"Mas, ini antri apa ya?" Tanya saya ragu.
"iNI ANTRI Crocks, mbak." Saya menelan ludah.
"Antri Crocks?? Buat bayar??" Saya menelan lagi.
"Bukan, buat masuk tokonya. kira-kira dua setengah jam ngantrinya, baru bisa masuk."

Wow, saya tidak percaya segitu banyak orang yang tergila-gila pada sepatu karet ini. Ngantri sudah menjadi tren saat ini, tapi tidak buat saya. Toh saya tidak bakal gila kalau nggak punya sepatu karet itu. Dengan berat hati saya terus berjalan, berjalan dan melihat-lihat toko sepatu lain untuk menggantikan rasa kecewa saya. Setelah melihat-lihat sampai mules sendiri,saya ke Starbucks, tempat favorit saya.

Lumayan, dengan membawa tumbler starbucks yang saya punya, saya hanya cukup mengeluarkan 17.000 untuk caramel frapuccino. Lalu, niatnya saya menuang bubuk coklat di atasnya, yang saya ambil malah tabung cinnamon, dan saya sudah terlanjur banyak menuang.

Sambil minum kopi, saya menghabiskan 50 lembar terakhir novel "remember me?" dan akhirnya pulang tanpa sepatu karet Crocks.

Friday, April 3, 2009

Dia pengganti ayam berkokok


Dia membangunkanku di pagi hari dengan deruan motornya di depan pagar rumah.
Dengan suara yang khas dan terdengar seperti anak berumur 16 tahun, ia memanggil namaku sambil sesekali mengetuk pagar.
Dengan gontai ku menuruni tangga, dan daster merah mudaku melambai di tubuhku.
Kukucek mata dan menguap, mengambil beberapa lembar uang di meja. Kulihat tubuhnya dari sela pagar. Fiber putih yang terpasang di pagarku membuatku tak bisa melihat seperti apa rupa wajahnya. Dia hanya memberiku kantong plastik berisi ayam potong yang masih mentah dengan tangannya yang gempal.
Kuucapkan terima kasih ketika sudah kuambil ayam mentah itu, dan tawa riangnya menyertai ketika ia bersiap pergi dengan motornya.

Dia adalah Wito, si penjual ayam berumur 35 tahun yang baik dan selalu mengantar ayam pesanan ke rumahku. Suatu hari nanti, aku akan menulis sesuatu tentangnya, dengan permulaan menulis tentang dirinya di layar ini.

I have decided


I stepped a stair in my life, and i found something that I won't be teacher for longer, even I still have no clear sight about who and what I will be in future.
I don't know specifically what makes me think like this. It suddenly appeared since last weeks and maybe because I don't want to be same with anyone. I want to be a different woman (and I know it's impossible), and it might appeared in spite of my arrogance or revenge of my jealousy.

I have decided. But I haven't decided yet about what I'am going to do in my life, now and later on.

Thursday, March 5, 2009

I am not me










for this time..







..but i'll be back






maybe with another kind of life..



..I'll get through it




with anything that I face..


to change.