Yolody's Room

Wednesday, June 11, 2008

Is hope true..

Kata seorang dosen gue, kita masih hidup di dunia ini karena kita punya harapan

Belajar adalah harapan,
Agama adalah harapan,
Makan adalah harapan,
Bekerja adalah harapan,
Tidur adalah harapan,
Pacaran adalah harapan,
pokoknya semua yang kita lakukan selalu ada harapan.
dengan harapan, kita bisa bertahan dengan apa yang kita jalani

Pertanyaanya adalah,

Apa boleh kita berharap terus?

Kalau berharap malah membuat resah dan tak menentu, apakah masih harus berharap?

Kalau memang tidak punya harapan, apakah kita akan mati?

Mungkin karena ini, muncul kata 'hopeless' dan 'hopeful'..

Why am I?

Why am I?

Am I too serious?

Am I too much feeling?

Am I too much afraid?

Am I an expert imaginer?

Am I too often to be dreaming?

Am I negative-thinking person?

Am I too traumatic?

Am I too stupid?

Am I WRONG?

AM I RIGHT?

Monday, May 19, 2008

Tulisan tengah malam

Ditemani sebatang cokelat Monggo, segelas air putih dingin, nyamuk-nyamuk yang sedang mencari persinggahan, aku duduk di depan komputer, memandang layar yang memuat tulisanku.
Hanya di saat-saat seperti inilah aku merasa memiliki sedikit waktu untuk diriku, sebelum rasa kantuk menyerang. Maka itu, pastilah akan kugunakan sebaik-baiknya waktuku yang terbatas ini, untuk menuangkan sedikit kejujuran melalui jari-jariku.

Aku terbiasa 'mencuri start'. Misalnya, di saat-saat kuliah ini yang masih padat-padatnya seperti makanan yang terlalu banyak dalam perut, aku malah merepotkan diri. Magang di salah satu stasiun tv swasta, yang harus kulakoni sepulang kuliah sampai malam. Sedangkan saat itu teman-temanku sellau bisa bersantai sepulang kuliah. Setelah selesai magang selama empat bulan, aku mencari pekerjaan sebagai pembimbing bahasa Inggris di KUMON. Sedangkan teman-temanku, masi bisa bersantai sepulang kuliah dan berpikir mau magang dimana. Prinsipku dalam hidup adalah gunakan waktu sebaik-baiknya dan kalau bisa melebihi kapasitas orang lain. Mungkin di balik semua itu aku memikiki sebongkah ketakutan, yang membuatku terbiasa untk mencuri start dimana-mana. Takut apa? Apakah takut tak bisa sukses nantinya? Mungkin.

ORang-orang mengenalku sebagai sosok yang ambisius, malah sebagian orang di kampusku menjulukiku si workaholic. Mereka bilang mumpung masih muda nikmatlah waktu untuk bersenang-senang, tapi aku bilang mmpung masih muda cobalah berbagai macam hal. Entah mereka yang terlalu santai atau aku yang terlalu serius menjalani hidup.

Belakangan ini, hm.. atau mungkin jauh dari belakangan ini.. yang berarti dari dulu.. my life is so tense. something is hiding behind me, which i can't take out of this. Maybe this is my fear.. humm..

I feel so.. SHIT!

Gue percaya setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Justru itu yang gue takut. Eitss jangan salah, bukan maksudnya gue takut dengan hidup gue. Sekarang sih gue happy-happy aja dalam hidup. Kuliah gue so far lancar, temen-temen gue.. banyak dan ok lah.. papa mama (even they are quite old and sometimes make me headache yang bisa bikin gue tenang ketika melihat mereka di rumah, kerjaan gue cukup ok dengan perjuangan gue yang belum maksimal, at least gue bisa earn livin, trus punya pacar yang gue kagumin dan bisa diandelin (even sometimes can't get out of problem).. yaaa.. buat gue untuk saat ini cukup lah yaa.. gue cukup hepi dengan keadaan ini lah, dan gue selalu bisa berterima kasih atas segala yang gue punya.

Tapi letak masalahnya bukan disitu.. itu yang nggak gue liat dalam diri dia. Secara jarak memang deket, tapi secara hubungan tuh jauuuhh banget. Dia selalu menyita pkiran gue, dan gue nggak bisa lakuin apa-apa juga buat dia.

Bener-bener sesak dada gue ketka gue tau dia sangat butuh teman, butuh pertolongan and i can do nothin! Terkadang emang susah ngalahin ego dalam diri, susaahh banget. Kenyataan memang pahit, dan gue yakin dia juga tau, tapi gue juga tau kalo dia sudah banget untuk menerima itu!Dia bukan anak bayi lagi yang baru bisa merangkak dan mengelak ketika sang bunda memeganginya. kalo bayi emang begitu, walaupun nggak mau dipegangin karena merasa udah bisa berjalan sendiri, tapi seharusnya memang dipegangin. Buatnya masa-masa itu seharusnya udah lewat, tapi kenapa susah banget? Gue rasanya seperti seoonggok tai yang ga bisa berbuat apa-apa buat dia. Gue cuma bisa mikirin dan berspekulasi sendiri tentang dia, harusnya begini, harusnya begitu.. gue tau itu memang susah buatnya, tapi bukannya nggak mungkin.

Mungkin satu hal yang lebih menakutkan dan berbahaya bukan ketika menjelang detik-detik kematian, tapi ketika seluruh kepercayaan dirinya pupus..

Susah-susah gampang

Siapa juga yang mau mikirin? kayak gue nggak ada kerjaan aja.
Tapi.. kenapa pikiran-pikiran itu selalu muncul setiap saat di waktu yang nggak tepat? pikiran-pikiran itu selalu mengetuk pintu otak gue dan memaksa masuk ke dalamnnya, sehingga konsentrasi gue melebur, berecetak kemana-mana.
Seakan ada magnet yang menarik seluruh jiwa raga gue.
Seakan ada iblis yang berbisik, berusaha mengacaukan pekerjaan gue.
Mending kalo yang gue pikirin cuma satu dua hal, nah ini bisa beranak kemana-mana.

kalau ditelusuri dengan detil, mungkin itu memang nggak ada urusannya dengan hidup gue. kalo gampangnya sih gini, "lha, mikirin diri sendiri aja susah gimana pikirin yang lain?" Yah.. gue sih nggak bisa gitu, secara gue orangnya kan parno abis.. Segala sesuatu juga pasti mampir dan ngerem di otak gue.

Banyaklah pikiran-pikiran yang berkecamuk di pala ini, yang terkadang nggak mampu secara gamblang gue ungkapkan ke orang lain. Kalo ada satu kejadian yang nggak enak di diri gue, pasti waspadanya bisa seumur idup! itulah yang bikin idup gue kayak dikejar setan, nggak tenang. Sampe gue nggak sempet mikirin kapan terakhir kali gue boker.

terkadang sepertinya di dalam diri gue ada banyak orang, jadi ya mereka berkomunikasi melalui tubuh gue ini.

oya gue bilang gue parno. emang bener. gampang-gampang sudah lah buat ngendaliin. tepatnya susah-susah gampang, soalnya memang lebih banyak susahnya sih. harusnya sih gue mikir, ya liat aja nanti gimana.. tapi ya gue mau liat sejarang. gimana dong?? yaah.. namanya juga orang parno!

Monday, March 3, 2008

segala ditangkap melalui panca indera

Sekarang aku duduk disini, setelah bergegas keluar dari ruangan dingin itu. Kududuk di atas batu yang disusun rapi sebagai pembatas tanaman, dengan membelakangi ruangan yang membuatku membeku tadi. Kehangatan langsung menyerbu seluruh tubuh. Mulai dari menyentuh ujung bulu kudukku yang masih setia berjinjit, menyentuh kulitku dan akhitnya meresap perlahan melalui jutaan pori-pori tubuhku. Matahari bersinar cukup terik disini, walalupun tidak setajam sinar di musim kemarau di tengah-tengah Sudirman. Entah mengapa aku tak merasa kepanasan, tapi hanya kehangatan yang mengalir dalam tubuh yang kurasa. Kulihat sekeliling, dan oh.. kutahu jawabannya. Pohon-pohon hias dengan daun hijau yang menjadikannya sempuna, membuat suasana menjadi adem. Daun-daun hijau yang melambai-lambai mesra membuatku tak memperhatikan teriknya matahari, melainkan membuatku asik mengamati tengah dansa mereka.

Di depanku orang-orang berlalu-lalang membawa sekotak makanan hasil dari kehadirannya dalam pernikahan sakral di Kuil Hoseiji yang megah. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang lemas tak bersemangat, sambil mencari-cari tempat duduk, untuk segera mengintip apa dibalik kotak tersebut. Maklum, waktu makan siang sudah tiba. Beberapa saat kemudian, pasangan mempelai dibalik gaun dan jasnya yang dirancang khusus datang menghampiri para tamu yang sedang asik bersantap. Kebahagiaan jelas terpancar dari aura wajah si pengantin wanita, terbukti dari senyuman mekar dan lesung pipi yang muncul sedalam-dalamnya.

Kuarahkan pandangan sedikit menjauh di sebrang kiri sana, memandangi bangunan megah bernuansa Jepang tempat bersatunya keluarga-keluarga baru, seperti yang baru saja dialami pasangan mempelai tersebut. Bila kita berjalan sekitar 10 meter dari kuil itu, nampaklah sebuah ruko tempat untuk menyalurkan TKI ke luar negeri.Buatku hal ini mengenaskan. Perbedaan sosial sungguh terasa. Di sebelah kiri ada kuil yang isinya adalah orang-orang yang berdoa dengan perasaan bahagia, lalu dengan hanya sebuah kedipan mata, di sebrang kanan pastilah banyak orang mendoakan bagaimana nasibnya mengemis sesuap nasi di negeri orang.

Friday, February 15, 2008

my day yesterday

KEmarin gue ikut Alvin, Diego, Yanto (kameramen) dan Mira (make up) syuting filler Bonneto di Waterbom PIK. Perjalanan di mobil yang disetir Pak Tony gue isi sebagian besar dengan tidur. Gila, ngantuk pisan euy! Mana gue tidur mangap negok ke jendela, dimana jendela itu nggak dipasang kaca film, yang berarti muka jelek gue bisa diliat orang-orang! Trus mobil yang gue naikkin itu adalah mobil Global TV, jangan-jangan orang yang melihat muka tidur gue itu mikir dan nyebarin hal ini,"Eh tau ga, orang Global TV itu jelek banget loh kalo tidur, gue pernah liat pas di tol pluit." Waduuu.. apakah gue merusak nama Global TV?? What the hell..

Sesampainya di waterbom, account manajer dari BBDO dan beberapa orang agency, juga dua host cilik (Ryo dan Abigail) menyambut. Anak-anak jaman sekarang jauh lebih ekspresif, jiwa show offnya tinggi, nggak kayak jaman gue waktu kecil. Ehem.. gue dulu memang pendiem dan pemalu banget. Rambut gue kayak laki, dan kalu gue nggak ngomong (kebetulan gue emang jarang ngomong), orang2 nggak bakal tau kalo gue itu cewek! sedih ya..

Dua host itu rada nggak konsen syutingnya, soalnya pikiran mereka pengen berenang mulu (iyalah, secara banyak perosotan yang menarik banget!). TErus gue sempet ngobrol sama mamanya Ryo. TErnyata Ryo itu adalah pemain sinetron INTAN (bagi sinetron mania pasti tau). Dia itu aslinya dari Jogja, dan karena ia diterima casting, ngekost lah ia di Jakarta ditemani ortunya bergantian. Saking sibuknya syuting, dia nggak sempet lagi nyari2 bahan ujian. Jadi mamanya lah yang sabar meringkas pelajaran, trus ryo cuma tinggal baca aja. Oya, fee nya itu gede banget untuk umur 12 tahun gitu. Per episode INTAN ia dibayar 2,5juta. Nggak heran ia udah kenal duit bannget.
Kok tau? iyalah,,, soalnya kemarin itu dia nggak bawa celana renang (secara aturan disana ketat banget, renang musti pakai kostum yang tepat), dia merengek2 minta mas Alvin beliin clana renang. Ketika mamanya mau beliin, dia bilang,
"Ma, duitnya musti dari mas alvin ya!"
"Udah sana mama yang atur, cepert syuting!"mamanya membalas
"Jangan mau kalo ga dikasih duitnya sama mas alvin ya! Mas alvin, ayo dong duitnya!"
"Aduhh, uda kamu syuting aja sana" kata mamanya lagi
"pokoknya duitnya musti dari mas alvin ya! Mas, ayo kasih aku duitnya,, cepek,,cepek,,!!"

Gila nggak seh anak umur segitu udah mengenal 'untung-rugi'. betapa mirisnya melihat situasi itu, anak-anak pra ABG itu udah di explore jiwanya buat berpikir komersil lewat cara-cara instan supaya terkenal. mereka orang-orang dibaliknya udah nggak peduli gimana nasib pendidikan si anak ini kalau waktunya hampir 100% dipakai buat syuting. beruntung mamanya konsen banget ke dia, jadi masih terus memantau sekolahnya. Tapi bagaimana dengan artis-artis yang menang tampang doang yang nggak keurus pendidikannya??

huff...

Setelah magrib, kita cabut dari sana. macet. laper. makan soto di daerah BLOK M. enak juga sih, cuma kenyangnya ampun2an, untung gue nggak muntah. Hehehe..
Obrolah di meja makan lumayan berbobot. mulai dari Nia Dinata yang selalu nangis kalau ngomelin anak buahnya, papanya yang penggelap uang bank, Proyek2 tommy Winata, Gangster Yapto, Dian Sastro yang pacaran sama Warman Prambors yang ternyata temannya Alvin...